Contoh Format Scenario (KARMA)

 

KARMA

 

SCENE I

FADE EXT. RUMAH ITA. DI DEPAN RUMAH ITA. PAGI
ITA.DEWI

Hari masih sangat pagi . Ita sedang mencuci pakaian ibunya sambil mengomel.

ITA 

Aduh baunya,.. beginilah kalau orang yang udah bau tanah, baju yang dipake ga ilang baunya walau pun dipakein sepuluh botol pewangi pakaian.

Dewi melintas tak sengaja mendengar omelan Ita.

DEWI 
(Berhenti berjalan, menyapa Ita) 
Kak Ita rajin ya pagi-pagi gini udah nyuci.

 

ITA

Bukannya rajin, Wi. Ini juga terpaksa. Huek..

(Mual-mual)

DEWI

(Panik, mendekati Ita)

Kak Ita kenapa?

(Memijat bagian tengkuk Ita)

Jangan-jangan Kak Ita hamil ya?

 

ITA

(Menepis tangan Dewi)

Hamil apaan? Gimana saya mau hamil kalau kerjaan saya sejak nikah asik ngurusin ibu?! Gara-gara ibuk saya jadi ga bisa hamil karena kecapean.

DEWI

(kaget)

Hush! Kak Ita ga boleh ngomong gitu lho, durhaka…

 

ITA

(sewot)

Kok durhaka? Memang bener kok. Sejak saya nikah kan ibu sakit jadi saya sibuk ngurusin ibu sampe kadang-kadang saya ga sempat perhatiin suami saya. Kadang saya berpikir kenapa ibu ga mati aja daripada menyusahkan kami.

 

DEWI

(menggeleng kepala)

Semua pasti ada hikmahnya, Kak. Dan anggap aja ini lah saatnya kakak membalas jasa ibu walau pun sebenarnya kita ga akan mampu membalas jasanya.

(bersiap pergi-menghindar)

 

ITA

Kamu enak bisa ngomong gitu karena kamu ga ngerasain, Wi.

 

DEWI

(Tersenyum simpul-kasihan)

Ya sudahlah, Kak, kalau begitu Dewi pamit dulu, soalnya ada keperluan. Permisi…

CUT TO

 

SCENE II
FADE INT. DI KAMAR IBU. SIANG.

IBU

Air di atas meja Ibu sudah habis. Ibu haus hendak minum. Ibu memanggil Ita tapi tak ada jawaban. Ibu mencoba mengambil minumnya sendiri di ruang tengah.

 

 

IBU
(Suara amat pelan)

Ita… Nak,…

(diam sejenak menunggu jawaban)

Ita..

(berusaha bangun)

CUT TO

 

SCENE III

FADE INT. DI RUANG TENGAH. SIANG.

IBU

 

Ibu berjalan tertatih menopang pada dinding. Berhenti di dekat mushala rumahnya, mengFADE INTip sesuatu.

CUT TO

 

SCENE IV

FADE INT. DI MUSHALA. SIANG.

ITA

 

Selesai shalat, Ita sedang berdo’a sambil menangis.

 

ITA

(menangis)

“Ya, Allah.. kumohon pada-Mu dengan bersungguh-sungguh. Panggil lah ibu agar segera menemui-Mu, ya Allah. Hamba sudah tidak sanggup mengurusnya lagi. Hamba lelah. Panggil lah dia,..

CUT TO

 


 

SCENE V

FADE INT. DI RUANG TENGAH. SIANG.

IBU

 

Ibu ikut menangis mendengar do’a anaknya. Ia mengelus dadanya sendiri sambil berbalik ke kamarnya.

CUT TO

 

SCENE VI

FADE INT. DI KAMAR ITA. PAGI

ITA. SUAMI

 

Ita bersikap manis pada suaminya. Merapikan dasi suaminya yang hendak berangkat kerja.

 

SUAMI

(bingung)

Tumben pagi ini kamu manis sekali sama saya.

 

ITA

(pura-pura bodoh)
Ah, masa?!

SUAMI

(menjauhi Ita, bercermin)

Iya. Aku tau, kamu pasti mau minta sesuatu. Emangnya kamu mau minta apa?

 

ITA

(duduk di tepi tempat tidur)

Iya.

(galau-agak takut)

Kamu setuju ga kalau Ibu kita bawa ke panti jompo aja supaya ibu dapat perawatan yang intensif. Ita capek ngurus ibu. Udah ga sanggup lagi. Kamu ingat kan dokter bilang apa? Kalau aku terus kecapean gini kita ga akan bisa punya anak.

 

 

 

SUAMI

(santai)

Itu sih terserah kamu. Itu kan ibu kamu. Masalah anak, kamu tenang aja, dalam waktu dekat ini pasti kita punya anak.

(berkedip nakal-pergi meninggalkan Ita)

 

ITA

(girang)

CUT TO

 

SCENE VII

FADE INT. SEBUAH RUANGAN DI PANTI JOMPO. PAGI.

ITA. PENGURUS PANTI

 

Ita dan pengurus pantiduduk berhadapan. Ita membaca sebuah kertas prosedur.

 

ITA

Jadi tetap pakai biaya ya? Saya kira gratis. Hehehe..

 

PENGURUS PANTI

(tersenyum kecil-menggeleng)

 

Ita menyalami pengurus panti, pamit pergi.

CUT TO

 

SCENE VIII

FADE EXT. DI PINGGIR JALAN. PAGI.

ITA

 

ITA

(Bicara dalam hati)

Kalau pakai biaya, sama aja donk, tetap nyusahin. Ya Allah.. kenapa ibu ga mati aja. Atau… (melihat sebuah apotik)

CUT TO

 

SCENE IX

FADE INT. DI APOTIK. SIANG.

ITA. APOTEKER.

 

ITA

(menyerahkan beberapa uang 50.000-berbisik)

Saya butuh obat berdosis tinggi, tolong saya. Kalau kurang akan saya tambah.

 

APOTEKER

(mengambil uang di meja etalase)

Tunggu sebentar.

 

Apoteker pergi, tak lama kembali mambawa tiga macam obat dan memberikannya pada Ita.

 

APOTEKER

Saya butuh 200.000 lagi.

 

Ita segera memberikan uang lalu mengambil obat dengan terburu-buru, lalu pergi.

CUT TO

 

SCENE X

FADE INT. DI KAMAR ITA. MALAM.

ITA

 

Ita masih ragu apakah akan memberikan obat itu pada ibunya atau tidak.

Ita kembali menyimpan obat-obatan itu.

CUT TO

 


 

SCENE XI

FADE INT. DI KAMAR ITA. PAGI.

ITA. SUAMI.

 

ITA

(manja)

Kapan bisa punya anak kalau kamunya pulang pagi terus. Pergi pagi pulang pagi.

 

SUAMI

Nanti, sayang. Sabar ya.. ga lama lagi kok.

 

Suami pergi.

CUT TO

 

SCENE XII

FADE INT. DI RUANG TV. SORE.

ITA

 

Ita sedang menonton TV. HP bordering. Ita menjjawab telepon.

 

ITA

Halo?

 

SUAMI

Kamu di rumah kan?!

 

ITA

Iya, kenapa?

 

 

SUAMI

Kamu mau punya anak kan?! Pastikan kamar kita bersih dan wangi ya?

 

ITA

(kesem-sem)

Genit ah! Iya sayang, aku pasti kasih yang terbaik.

 

 

SUAMI

Tapi pastiin ibu di dalam kamar aja ya, jangan sampe keluar, ok?! Soalnya aku ga enak sama ibu.

CUT TO

 

SCENE XIII

FADE INT. KAMAR IBU. MALAM.

ITA. IBU

 

ITA

Bu, minum obatnya ya biar cepat sembuh.

 

IBU

Ini bukan obat ibu, Ta

 

ITA

Ini obat yang baru ita beli bu, kata dokter obat ini bisa bantu ibu supaya cepat sembuh

 

IBU

Biar ibu minum obat yang biasa aja ya, Ta.

 

ITA

(membentak)

Ibu! Udah cukup lah ibu buat ita capek, cukup ibu buat ita menderita. Ibu tau kenapa ita ga punya anak? Ini semua gara-gara ibu. Ita capek ngurusin ibu makanya ita ga bisa punya anak. Ibu mau ita terus-terusan kayak gini?

 

IBU

(terdiam sejenak)

Sini, Nak biar ibu minum obatnya.

 

Ibu meminum obatnya. Ita pergi. Ibu tertidur lalu ibu kejang-kejang dan buih keluar dari mulutnya.

CUT TO

 

 

SCENE XIV

FADE INT. DI DEPAN PINTU. MALAM

ITA

 

Ita sedang mengunci pintu kamar ibu.

CUT TO

 

SCENE XV

FADE INT. DI RUANG TENGAH. MALAM.

ITA

 

Berjalan mendekati pintu yang barusan di ketuk.

CUT TO

 

SCENE XVI

FADE INT. DI ABANG PINTU UTAMA. MALAM.

ITA. SUAMI. BAYI. PEREMPUAN.

 

Ita terkejut dan bingung melihat suaminya yang sedang menggendong bayi dan seorang perempuan merangkul lengan suaminya dengan mesra.

 

ITA

Mereka ini siapa?

 

SUAMI

(wajah tak bersalah-bahagia)

Ini Audi, istri aku. Mulai sekarang dia akan tinggal di sini. Ini anak kita, Ta. Anak kita sama-sama. Sekarang tolong kamu bawa itu barang-barang Audi dan bawa ke kamar ya!

 

ITA

(terkejut-marah-mata melotot)

Apa? Apa maksudnya ini hah?

 

 

 

 

SUAMI

Kamu kenapa, Ta? Bukannya kamu bilang kamu ingin punya anak? Ini anak kita, Ta. Maaf, Ta, sebenarnya dokter pernah bilang sama aku kalau kamu mandul makanya aku cari alternative lain untuk kebahagian kita, Ta.

 

ITA

(berteriak-mulai stress-tidak terima)

Nggak! Ini gak mungkin! Nggak!

CUT TO

 

ENDING

 

SCENE END I

Ibu terbujur kaku dengan buih putih di mimirnya.

 

SCENE END II

Suami memeluk Audi dan bayinya yang menangis

 

SCENE END III

Ita menjerit-jerit, menangis. Gila. Mengacak-acak rambutnya. Terduduk lemas tak berdaya.

 

 

The End

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s