Aku dan Malam

Aku Dan Malam

Karya : Rizky Noviyanti

 

 

Senja mulai menutupi bagian bumi utara, langitnya pun begitu indah berwarnakan jingga berhiaskan warna oren sinar dari sang surya. Terangnya cahaya kian meredup,dan tenggelam di pesisir pantai di ujung ombak menghilang tak berbekas.

Semakin larut maka semakin ramai pula penghuni jalanan. Lampu-lampu jalan dan bangunan tinggi perkotaan mulai menampakan sinar keindahannya. Kurasa tiupan angin malam berhembus masuk melalui pori-pori kulit ku menelusuk menusuk tulang hingga sendi. Di angkasa sana kurasakan bintang tertawa melihatku yang hampir mati kedinginan “dalam definisi sastra”

Ya, benar! Cukup menggoda tiupan udara dingin malam ini. Karena hanya ada sehelai kain hitam menempel nan tipis yang membaluti kulitku. Kusapa sang rembulan, yang tersipu melihat aku yang sedang di landa gusar. Tapi tak kuperdulikan semua itu. Aku terus berjalan dengan bayanganku sebagai sahabat setia yang menemani. Namun siapa yang menyangka malam ini hujan turun tiba-tiba, dan sangat lebat. Ternyata temanku  salah dan berdusta dengan apa yang dia katakana bahwa ”jika bintang terlihat ramai,maka hujan enggan tuk datang

Aku berlari ke arah rindangnya pohon penghias jalan. Berteduh dari guyuran hujan serta gemuruh halilintar yang menakutkan. Genangan-genangan air pun mulai mengisi jalanan yang berlubang.

Sudah hampir dua puluh menit aku berdiri disini masih ditemani bayanganku. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah menikmati setiap inci keindahan alam yang tersaji. Ponselku berbunyi. Kudapati sebuah pesan singkat dari kekasih yang sedaritadi membuat aku tak mengapa berdiri lama disini meski hujan menghantam. Isi pesan singkat itu sedikit mengecewakan. Aku harus menunggunya hingga hujan reda.

Dua jam berlalu namun tetesan kristal bening itu tak kunjung reda membuat aku gelisah. Entah mengapa hati ini begitu gusar seperti ada yang tidak beres. Ingin rasanya kaki ini beranjak pergi menemuinya di rumahnya tapi kuurungkan niat itu. Bagaimana bila kekasihku telah lebih dulu beranjak untuk menemuiku?

Kubakar sebatang balutan tembakau yang tadi kubawa dari rumah. Hisapan demi hisapan, kubiarkan asap rokok itu masuk bebas lalui tenggorokanku dan membakar nafasku yang setengah terbatuk. Lalu ku perhatikan sekitar tersadar telah tak ada satupun orang di jalanan yang tadinya begitu ramai. Halte di sebrang dari tempat ku berdiri pun kosong, gelap menakutkan seakan ada sesosok mahluk yang siap mengancam.

Akhirnya hujan pun mereda. Sisakan udara dingin dan basah yang seolah memaksaku untuk pulang. Aku putuskan untuk berpindah tempat ke seberang sana,kepertokoan di sebelah halte bis yang sudah benar-benar kosong.toko itu  terasnya tak tersentuh hujan.Tapi sedikit kotor dan mungkin disana tak terlalu dingin dan juga aku bias duduk mengistirahatkan kaki yang sudah lama berdiri.

Memang sekarang aku sedang merasa sempurna, merasakan cinta dari seorang gadis. Namun entah mengapa aku selalu teringat, masa lalu yang tak ingin kuhadirkan dalam kalbu. Tapi ini sangat membekas dan berpengaruh banyak dalam kehidupanku, mengganggu setiap mimpi di tidurku, melekat erat dan tak mungkin terlepas. Kisah yang sungguh tak sempurna. Berharap sempurna namun hanya sisakan luka

Yang berlalu biarkan menjadi sebuah sejarah yang akan ku simpan dalam-dalam, jauh di dasar nurani. “Mengapa harus mengulas masa lalu?” gumamku dengan nada agak kesal.

Berlama-lama dan becanda dengan waktu, uraikan pilu yang memaku dalam kelamnya jiwa. Bertanya-tanya mengapa dia tak ada? Apa dia akan kembali pulang? Atau belum selangkah pun beranjak pergi dari rumahnya, apakah dia ingkari  janji. Apa artinya aku menunggu?

Tepat pukul Sembilan malam. Ponsel ku kembali berdering. Ternyata dia! Akhirnya ia menghubungiku dan tentu saja segera kujawab panggilan dari benda mungil itu karena aku takut ponselku mati kehabisan baterai yang pada indicator layar sudah berwarna merah yang berarti low power.

”Kamu dimana? Aku disini nunggu kamu lama,” ucapku dengan tergesa dan dengan nada yang agak keras membuktikan bahwa aku memang dilanda gusar.

”Maaf, aku tau. Tapi kayaknya malam ini aku ga bisa kesana. Aku ga bias keluar rumah. Ayah sakit. Aku minta maaf..” dengan lurusnya gadisku menjawab demikian tanpa berpikir apa yang aku rasa setelahnya.

 “Ya Tuhan,.. mengapa tak dari tadi saja kau batalkan janji kita sehingga aku tak perlu menunggu lama?” ujar ku sedikit kecewa. Namun tak sempat ia membalas kata-kataku benda imut yang tanyinya menghubungkan komunikasi antara aku dan dia pun akhirnya mati, memutuskan percakapan yang tadi memanjakan emosiku. Kecewa memang, namun apa yang harus ku lakukan setelah mendengar alasan demikian dari suaranya yang lembut.

Jika rindu tak berlabuh biar esok yang mentukan. Ku coba nyalakan handphone-ku yang mati. Namun sepertinya benda itusudah benar-benar sudah tak bisa diajak berdiskusi. Ah, biarlah! Biar tak ada seorang pun yang mengganggu diriku ini menikmati indahnya malam, agar sedikit menenangkan diriku karena kau telah ingkari janji hingga rinduku tak menepi.

Kuputuskan untuk melanjutkan tenggelamkan diri dalam kegelapan. Sebenarnya aku benar-benar marah, itu jika kalian memang ingin tahu. Pengorbananku bergelut dengan para penghias malam seakan tak berarti apa-apa. Inilah aku, meski badai datang dan membawaku hilang, takan pernah ku ingkari janji, aku akan datang meskipun dengan wujud yang baru.

Apa kau rasakan dinginnya malam  hari ini? Aku rasa tidak! Dengan keadaanku yang seperti saat ini, setengah basah kuyup dengan baju kaos oblong hitam favoritku dan celana jean’s pendek yang hanya menutupi hingga lutut. Kau tidak tahu siksaan apa yang ku alami hanya untuk aku melihat dirimu. Melihat indahmu. Kau tak tau, tak akan pernah tau.

Di sudut sebuah pertokoan. Aku masih terdiam dan berfikir, aku rela seperti ini karena mungkin ‘dia’-lah seseorang yang mampu membawa rintik hujan yang mengguyur hatiku yang gersang dan menjadi titik terang di kegelapan saat aku tersesat. Seharusnya aku mengerti, tak baik baginya beranjak dari rumahnya yang hangat, yang melindunginya dari panas dan hujan terlebih di kala ayahnya tengah terbaring sakit. Oh ternyata malaikat kecil di bahu kananku menenangkanku dan mengalahkan emosiku, juga bisikan emosi setan di sisi lainnya.

Kulangkahkan kaki berserta lamunanku tuk beranjak pergi dari sudut toko tersebut. Dinginnya malam kembali mengiringiku. Namun sekarang jauh lebih kuat dan lebih menusuk dari yang tadi, sebelum air langit membasahi bumi.

Kulihat jam tanganku yang tak berhenti berputar masih menunjukan pukul sembilam lebih empat puluh lima menit. Aku teringat hari ini kebetulan ada pasar malam di taman kota. Tak berniat untuk langsung pulang, aku pun memutar haluan dan beranjak ke taman kota untuk menghibur hati.

Ya memang agak jauh dari tempat kuberdiri sekarang tapi tak urung aku melangkah demi ketenangan hati dan pikiran, entah itu akan benar terjadi setidaknya aku menaruh harap pada taman kota dan pasar malam itu.

Andai saja aku memiliki sepeda motor mungkin aku tak akan selelah ini. Tapi itu hanya mimpi dan aku pun tak terlalu berharap untuk memilikinya karena aku pun tidak mahir mengendarainya. Dan pula aku ini hanya seorang miskin yang hanya bisa bermimpi meski mimpi itu terkadang tak berarti seperti memimpikan sepeda motor, saat itu aku tak benar-benar bermimpi. Itu hanyalah hasrat ketika aku merasakan letih yang teramat sangat seperti sekarang ini.

Sepanjang jalan, mataku tak berhenti memperhatikan sekitar. Sepanjang perjalanan aku hanya bertemankan dingin dan asap rokok yang mengepul yang keluar dari mulutku pula dari sebatang rokok yang terjepit di antara jari tengah dan jari telunjukku. Kepulan aasap itu seperti kereta tua yang melaju lambat di jalurnya.

Aku memperhatikan kerikil-kerikil kecil yang malang yang ditendang, diinjak bahkan diludahi manusia, aku membayangkan betapa sakitnya diperlakukan demikian. Untuk apa aku membayangkannya? Bukankah sejatinya aku telah duluan merasakan itu?

Jalan yang kutapaki belum semuanya kering hingga kadang-kadang spectrum bayangan dari tubuhku tercermin di bahu jalan menambah indahnya pesona malam meski nyatanya keindahan itu tak sepenuhnya dapat aku nikmati karena hawa dingin yang memilukan serta mampu menggetarkan tulang-tulang di sekujur tubuhku.

Kulihat satu persatu pertokoan di sepanjang jalan ini nyaris semuanya tertutup. Hanya beberapa saja yang masih setia terbuka lebar untuk menjajakan barang yang mereka jual, namun mataku berhenti dan hati merasa miris ketika melihat keadaan yang terjadi di depan toko-toko besar yang memiliki balkon di lantai atasnya. Tapi rasa miris itu langsung kutepis,”Hal wajar, aku pun demikian.” Gumamku lalu kembali mengaalihkan pandanganku. Aku bukan orang yang bisa mengabaikan hal demikian dengan segera, dalam langkah selanjutnya, aku kembali berpikir bahwa bagaimana pun itu, sesering apa pun aku melihatnya, hal itu tetaplah menjadi sebuah pemandangan yang menyedihkan. Dijaman seperti ini masih saja ada yang hidup dari sisa-sisa kehidupan, tak memiliki tempat berlindung dari serangan cuaca seperti malam ini atau bulan kemarin saat matahari menjilat bumi dengan ganasnya. Miris melihat mereka bersama keluarganya  menikmati hawa dingin dengan beralaskan kardus-kardus kotor dan hanya memakai pakaian yang compang-camping, sungguh pakaian itu tak layak pakai. Itu bukanlah pakaian.

Apakah para petinggi kita peduli pada orang seperti mereka? Apakah mereka sampah? Apakah mereka hina? Kurasa bukan! Tegas jawabku tentang yang satu ini. Lebih baik mereka daripada orang yang berpura-pura demi jabatan mereka sendiri, melenyapkan uang-uang rakyat jelata seperti kami-kami ini. Seharusnya mereka yang duduk di kursi mewah itu melihat semua ini dan tersentuh jika benar mereka masih memiliki hati, bukan hanya mengumbar janji-janji kosong demi sebuah jabatan dan demi semua kehidupan duniawi. Mereka lebih hina  dari kami! “Hahaha.. aku melantur cukup jauh” pikirku tertawa sendiri.

 

Dari kejauhan sudah terdengar suara-suara ramai taman ria. Aku pun berharap ada seseorang yang ku kenal disana untuk sekedar menemaniku yang sedang penat. Entah mengapa sepertinya sang rembulan seakan menertawaiku dan mengajakku untuk kembali pada sebuah perputaran hidup dalam kesepian dan kesendirian. “Hmmm.. lumayan capek juga jalan sejauh ini,” kataku sambil mengusap keringat di kening ini.

Di pintu masuk pasar malam tersebut aku melihat banyak penjaja makanan-makanan kecil dan seketika itu juga aroma-aroma makanan khas pasar malam bersatu padu. Menggoda dari segala arah. Memaksaku untuk mencicipi makan demi makan yang mereka racik sendiri dan terkadan makanan-makanan itu adalah hasil dari ide kreatif mereka hingga menimbulkan kreasi baru.

Gemerlap lampu lampu hias, suara musik dan kerumunan manusia yang berlalu lalang memecah kesendirianku. Tak kukira akan seramai ini, bahkan hawa dingin yang menyiksaku tadi sekejab hilang karena sesaknya kerumunan manusia. Aku pun berjalan berkeliling  saling berdesakan. Sesampainya disebuah kios makanan bertuliskan “paparony” aku pun mencium aroma makanan kesukaanku sehingga membuat perutku yang kosong berdendang ria dan membuat cacing dalam tubuh berontak.

Akhirnya kuputuskan membeli sebuah sosis bakar yang di bandrol murah dan kulanjutkan langkah kembali menyusuri kios-kios yang membentuk labirin raksasa. Akan tetapi seketika itu langkahku terhenti dan terpaku, jantungku berdetak tak beraturan, membuat tanganku bergetar hingga makanan yang kugenggam terjatuh ke tanah, terinjak dan berserakan, Mataku tak henti memandang sosok yang tak asing bagiku ini.

Sekilas aku tak yakin, namun itu nyata, itu benar, itu adalah dia. Meskiku coba bohongi penglihatanku. Tapi itu adalah nyata dan dia tak sendiri, bergandengan tangan dengan seseorang yang bukan diriku, aku, atau pun saya. Seseorang itu tak pernah ku kenal sebelumnya. Siapa dia? Apa maksudnya semua ini? Aku bahkan tak mampu meyakinkan diriku bahwa laki-laki yang bersamanya itu adalah saudaranya karena mereka begitu mesra. Lalu bagaimana dengan ayahnya?

Dengan posisiku sekarang aku rasa aku tak dapat berpikir jernih. Aku terlalu gemetar, aku takut tak kuasa menahan diri dan emosi. Tertelan amarah, setan dalam diri menyatu dalam tubuh, semua perasaan bercampur dalam lingkar hati. Emosi, naluri, kecewa dan penyesalan.

Hujan yang barusan turunkan rintiknya pun sekan menjadi bongkahan bara api yang berwarna merah panas, serentak udara dingin pun hilang dan api ini menguasai diri ini.

Ku beranikan diri untuk mendekatinya. Namun tubuh ini menolak tuk bertindak. Tak kuasa aku  melihat wajah mungilnya yang terlihat amat bahagia bersama lelaki disampingnya. Tuhan, apa yang harus aku perbuat? Mulutku terbungkam dalam keramaian dan rindu ini berubah menjadi butiran benci. Bila harusku berteriak dan mendaratkan pukulan telak dimuka lelaki yang bersamanya tentu aku akan merasa sangat puas tapi aku bukan lagi bocah ingusan yang  mementingkan emosi. Tapi Tuhan.. hati tak mungkin kubodohi, aku cemburu! Aku marah!Aku kecewa! Aku terluka!

Akhirnya keputusanku bulat! Kudekati mereka berdua yang sedang memanjakan kasih di hadapanku. Semakin dekat, semakin aku terbawa suasana, semakin sulit aku menahan air mata.

Ku lambaikan tangan dan tersenyum “Hey, pacarmukah?” sapaku kikuk tak tau lagi harus berkata apa karena seketika itu lidahku kelu dan seakan melompat keluar dari mulutku. Tampak raut wajah yang amat terkejut, pucat pasi, seperti melihat setan. Berubah drastis dari apa yang kulihat belum lama tadi.

Laki-laki tersebut mengamatiku kemudian memalingkan wajahnya melihat kekasihku yang pula ternyata adalah kekasihnya, entah siapa di antara kami yang lebih dulu menjadikannya sebagai kekasih, sorot matanya bertanya-tanya siapa diriku ini dan tampak wajah serba salah dari gadis yang kucintai pun terlihat jelas dari tarian matanya yang perlahan meneteskan air mata.

Aku meninggalkan seulas senyum pahit pada dua sejoli tersebut lalu melanjutkan langkahku yang sudah tak berarah. Aku berjalan semakin jauh dari mereka dan dari kejauhan itu aku tahu pasti lelaki itu memperhatikan aku karena kekasihnya meneteskan air mata setelah aku menyapanya.

Tubuhku berbalik dan saat itu pula laki-laki itu dengan sengaja dia merangkul bahu dan mengusap air mata  gadisku lalu melemparkan senyum benci padaku,

”Arghh.. Tuhan, jika saja bukan di tempat seperti ini dan jika saja kukobarkan api emosiku tentu sudah ku daratkan satu pukulan keras di pelipis matanya!!!” bathinku.

Daripada aku terbakar dan menyulut emosi dalam hati, aku berniat beranjak dari tempat ini dengan segera dan menunggu lelaki tersebut keluar dari pasar ini. Setelah itu akan kuberi dia sedikit sambutan hangat diluar sana. Dengan sabar aku menunggu, berdiri dengan perasaan yang bercampur aduk hingga semakin terasa panas. Berat mata ini menahan tetesan air mata yang tak mungkin ku bendung lagi. Rasa nya sama seperti aku terjatuh dulu.

Aku menunggu cukup lama, cukup untuk membuat hatiku kembali tenang meski bara api belum sepenuhnya padam. Untuk apa aku menyalahkan lelaki itu? Dia tampan dan berpakaian layaknya seorang publik figur, sepertinya dari kalangan manusia kelas atas. Lah, sedangkan aku, aku tampak berantakan! Jelas aku ini miskin, lalu apa yang bisa membuatku semarah ini bila kekasihku saja bahagia dengan keadaan ini. Untuk apa aku menghancurkan kemesraan mereka? Kusapu wajahku. Kuurungkan niatku. Ku bawa sesal ini pulang membebani pikiranku.

Tak perlu dibicarakan lagi, tak perlu di sesali lagi.Ada kalanya kita harus mampu bertahan  dalam kenyataan yang kita benci kebenarannya. Kusadari harusnya aku tak menyalahkan siapapun. Ingat, inilah hidup, “sebuah perjalanan panjang”. Jika  aku tersesat terlalu dalam, maka perjalanan ini akan berujung pada sebuah penyesalan. Berkaca dan memahami semua ini sebagai cobaan, bukan sebagai hambatan.

Aku pun hengkang dari tempatku terpana, tempat dimana kudapati rasa pedih ini. Menjauh dari keramaian, kembali menerobos masuk dalam kegelapan malam yang berselimutkan embun, dan kepulan asap rokok kembali menemaniku menyusuri jalan. Biarkan pekatnya malam yang terlanjur menyangjungku, membuatku melupakan sedikit perih di hati.

Hey, kawan! Berikan aku arti dari semua ini. Apakah benar cinta harus bertasbihkan harta dan beralaskan emas dan mobil mewah? Jika itu benar, lebih baik aku menutup hati untuk cinta dan sahabatnya.

Di tengah bangunan-bangunan mewah ala kota-kota besar, aku berjalan mendekati lembah kematian. Tunggu, apa harus aku terjatuh dan mengunci diri dalam kepedihan yang mendalam seperti saat ini? Haruskah aku membasahi pipiku dengan air mata derita sedangkan mereka tertawa dan bahagia? aku rasa tidak! Haruskah aku mengalah dalam hal seperti ini? Aku belum menemukan jawaban apa pun. Malam masih bungkam dan dingin padaku. Meski tertatih aku coba berjalan.

Aku bercerita tentang cinta dan kini langkahku berlabuh pada tanah tak bertuan. Sedikit emosi masih tetap berkobar dalam hati,membakar teguhnya jiwa yang berselimut iman, yang kini sisakan bara kebencian. Sesaat aku beranjak tuk membuka pintu rumah, aku tendang jauh hingga melambung jauh harapan tuk melingkarkan cincin di jari manisnya. Kupegang erat pegangan pintu rumahku yang agak berkarat akibat cuaca. Kubuka daun pintunya lalu kubanting  keras hingga memecah keheningan malam yang akan beranjak subuh. Aku tak hiraukan ocehan orangtuaku yang kebetulan terbangun karena suara bantingan pintu yang kuciptakan begitu keras.

Aku berjalan menaiki tangga menuju tempat dimana biasa aku merenung. Meski namaku terus kau panggil, Ibu, maaf aku tak bisa menghiraukan sahutanmu. Biarkan anakmu ini sendirian, mungkin kau takan mengerti. Aku mendorong pintu kamarku yang setengah terbuka dengan badanku. Sesegera mungkin kurebahkan tubuhku meski Ibu terus memanggil namaku.

Tuhan, aku hanya mengadu pada-Mu. Aku tau Kau Yang Maha Penyayang. Kau pasti mendengarkan aduanku ini meski hambamu penuh dengan dosa. Aku harap waktu kembali, jadi tak usah aku menunggu sesuatu yang menyakitkan hati. Tak perlu aku berjalan dengan sayap yang berjatuhan. Sampai saat ini aku berharap ini semua hanyalah mimpi.

Apa aku sanggup hadapi malam-malam berikutnya tanpa cinta? Tak hanya malam, tapi setiap hariku.

Kini mentari akan terbit menggantikan sang rembulan, tak terasa begitu cepat waktu berlalu dan akhirnya aku mengerti semua ini. Emosi dan benci yang hanyutkan diri menuju sungai kegelapan yang sangat dalam dan tak berdasar buat dirimu tenggelam didalamnya. Kita hidup bukan untuk mengejar semu melainkan menelusuri melodi hati. Aku yang belajar dari indahnya malam. Ku tutup mata yang sudah sangat sulit terbuka seiring burung pagi yang bernyanyi yang datang tuk hantarkan tidurku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s