Emping di Hari Pink

Pagi ini Odi sibuk memakan makanan kesukaannya yang tak lain tak bukan adalah emping sambil memainkan game di laptop kesayangannya yang tidak pernah bisa jauh darinya sampai tiba-tiba suara handhpone-nya berdering.

“Ada apa, Sayang?” Odi menjawab telepon dari Chaca, pacarnya.

“Keluar dong, aku di depan pintu nih daritadi aku gedor-gedor ga ada yang buka!” jawab Chaca jengkel.

Odi melonggo dan mellihat ke jendela.

“Ngapain Chaca ke sini ya? Jangan-jangan Chaca tau kalo gue lagi nge-emping. Bisa gawat nih!”

Odi berlari melesat ke kamar mandi. Segera ia menggosok giginya dan kemudian mengambil permen karet yang selalu ia sediakan di laci tioletnya. Tak hanya itu, Odi juga tak lupa menyimpan empingnya di dalam lemari karena penciuman pacarnya itu sangat tajam terhadap emping karena do’i memang benci banget sama makanan yang berbau melinjo itu.

‘Krek’ pintu dibuka.

“Kok lama banget sih?” wajah Chaca yang nongol di depan pintu terlihat jutek dan cemberut berlebihan.

Belum sempat Odi menjawab pertanyaan Chaca, Odi langsung melompat kaget melihat apa yang dibawa oleh kekasihnya itu.

“Miaaaww…”

“Ih, Chaca! Kok kamu bawa-bawa itu binatang ke sini sih?” protes Odi galak.

“Emangnya kenapa sama Oding?”

“Oding, Oding, enak aja. Jangan sama-samain deh nama tuh makhluk sama nama gue!”

“Odi! Kok kamu ngomongnya kasar gitu? Gue-gue. Aku gak suka ah!” sekarang giliran Chaca yang protes.

Odi diam. Odi yang sangat mencintai Chaca tidak ingin membuat pacarnya itu semakin marah. Odi hanya bisa manyun tak berdaya.

“Aku ke sini mau nitip ini.” Kata Chaca memaksa Odi menggendong Oding dan Odi gagal  mengelak. “Aku mau belanja. Di rumah ga ada yang jagain Oding. Katu tolong jagain Oding baik-baik ya!” Pinta Chaca manja.

Odi benar-benar tidak dapat menolak permintaan Chaca. Dengan berat hati Odi menerima permintaan Chaha meskipun tidak semua perintah Chaca ia turuti. Buktinya Odi yang seharusnya menjaga Oding kini malah kembali sibuk dengan laptop dan empingnya padahal Oding sudah sedaritadi mengeong kelaparan.

“Miaaaww..”

Odi melirik sinis pada Oding dan tiba-tiba saja Odi menarik ekor Oding yang panjang dan diikatkan pita berwarna pink.

“Sialan. Ini kan pita rambut yang gue kasih ke Chaca!” Odi menggerutu kesal.

Odi menelepon Chaca dan menyuuruhnya agar segera pulang dan mengambil kucingnya

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, sudah nyaris enam jam Odi melewati harinya dengan kesal karena keberadaan Oding.

Chaca datang dan dengan segera Odi membukakan pintu untuknya.

“Oding mana?” Tanya Chaca di depan pintu dengan wajah ceria.

“Ada. Ambil aja tuh!” Odi menjawab dengan nada malas bercampur kesal menunjukkan Oding yang tengah tidur di sofa dengan dagunya.

“Oh, lagi tidur yah? Kamu ke sini deh!” ajak Chaca menarik lengan kanan Odi menuju sofa di mana Oding tengah tertidur. “Happy Valentine’s day, Sayang.” Sebuah kecupan mendarat di pipi Odi.

Odi terkejut. ‘Oh iya, hari ini kan hari valentine. Pantes aja Chaca nge-ping gini. Duh, malah gue ga nyiapin apa-apa pula!’  bathin Odi.

Happy Valentine’s day too, Honney.” Balas Odi dingin.

“Kamu pasti lupa kalo hari ini hari valentine dan kamu gak nyiapin apa-apa buat aku, iya kan?!”

Odi malu karena tebakan Chaca sangat tepat.

“Gapapa kok, Sayang. Oh ya, ini aku bawain sesuatu buat kamu. Berhubung kamu gak suka coklat, jadi aku bawain makanan kesukaan kamu deh. Jeng-jeeeeng!!!” Chaca membuka sebungkus kotak berbentuk hati yang dibalut dengn pita bewarna Pink yang ternyata berisikan emping.

Odi merasa ini benar-benar sebuah kejutan yang sangat menyenangkan. “Kamu kok ngasih aku emping sih? Bukannya kamu anti banget sama emping?”

“Iya, tapi khusus hari ini gapapa kok, di makan dong, Sayang.” Ujar Chaca menggendong Oding ke pangkuannya dan kemudian memain-mainkan bulu Oding yang lembbut.

Odi yang tadinya merasa sangat senang kini berubah menjadi jengkel seketika.

“Kamu tuh sebenernya niat gak sih nyuruh aku makan nih emping?”

“Lho, emangnya kenapa? Ada yang salah?”

“Ya tentu! Liat apa yang sedang kamu buat. Aku tuh merasa terganggu banget dengan dia, dan akan merasa lebih terganggu lagi karena kamu ngelus-ngelus dia waktu aku lagi makan. Emangnya kamu gak mikir ya kalo tuh bulu bisa aja masuk ke dalam mutut aku?” bentak Odi dengan suara keras karena dipenuhi aura emosi.

“Kamu jahat, Di!” Chaca hendak berlari keluar rumah Odi namun Odi menahannya. “Lepasin aku! Aku memang ngerasain warna cinta kita udah berubah.”

“Maksudnya apa, sih?” Tanya Odi mengangkat dagu gadis cantik itu.

 

Chaca cemberut, “Kita gak bisa nge-ping lagi.”

Odi kaget mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Chaca. “Maksudmu, cinta kita gak lagi merah jambu?” tanya Odi memelas.

Chaca mengangguk pasti.

“Chaca, ini semua salah paham. Maaf, tadi aku Cuma kebawa emosi aja kok. Aku janji gak akan emosian lagi deh.” Kata Odi sungguh-sungguh.

Chaca menggeleng.

Please..”

“Maaf, Odi.” Ujar Chaca masih menggeleng pelan dan kemudian berlalu meninggalkan Odi.

Odi hanya mampu terdiam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dan itu artinya valentine sudah berlalu. Pink tak ada lagi, begitu pula cinta Chaca kepada Odi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s