Segelas Air Cucian Kaki

Segelas Air Cucian Kaki

Karya : Rizky Noviyanti

Raja siang hari ini seperti tengah marah pada dunia, hawanya seakan mampu membakar otak yang padahal telah dilindungi oleh ttempurungnya hingga mencair. Siang itu Dewi baru saja pulang dari sekolahnya. Perutnya yang sedari pagi tadi tidak diisi kini melonjak-lonjak demo meminta untuk segera diisi. Langkah Dewi semakin cepat agar ia segera dapat merebahkan tubuh yang lelah pula mengisi perutnya dan tentu saja ia juga ingin segera bersembunyi dari jilatan ‘Sang Raja’.

Sesampainya di rumah, Bu Latri yang tengah menunggu-nunggu kelahiran anak ketiganya terlihat sedang sibuk merapikan kamar kecil bercat biru untuk bayi laki-lakinya yang menurut prediksi dokter akan lahir sekitar satu minggu lagi.

Dewi membuka tudung saji di ruang makan. Kosong, tak ada satu lauk pun di sana.

“Daritadi ibu sibuk beresin kamar calon adik kamu, Dew, jadi ibu ga masak. Tapi karena teringat sama kamu, ibu sempatin tuh nanak nasi tapi belum masak. Tolong kamu jagain ya jangan sampai hangus.” Ujar Bu Lastri sambil tterus melanjutkan kegiatannya tanpa menoleh pada Dewi.

Dewi menyahut sekenanya karena ia merasa begitu lemas.

Dewi merebahkan badannya di atas tempat tidurnya yang selalu rapi. Ia tak berniat melepaskan seragam sekolahnya karena ia hanya berencana untuk meluruskan tubuhnya, bukan untuk benar-benar tidur siang karena ia teringat akan perintah ibunya pula karena perutnya yang sudah keroncongan.

Samara-samar Dewi mendengar sang ibu berbicara namun ia tak lagi dapat menangkapnya dengan benar karena buaian kipas angin yang membuatnya semakin santai berhasil mengantar Dewi ke dunia mimpi.

“Ah!” Dewi terkejut kala seember air dingin mengguyur tubuhnya.

Tak hanya itu, sekali lagi Dewi kembali berteriak namun kali ini agak keras karena yang kini menyelimutinya tak lagi air dingin melainkan nasi panas yang bau hangus.

“Dasar anak haram, Kau! Kotoran anjing! Anak tidak berguna, enyah saja kau dari sini!” suara Bu Lastri melengking keras tak menghiraukan Putrinya yang mengaduh kesakitan.

Air mata Dewi mengalir seraya dengan sumpah serapah yang dikeluarkan oleh Bu Lastri. Hatinya begitu sakit mendengar perkaataan-perkataan kotor itu. Perkataan yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang ibu kandung. Dewi tak lagi hanya menderita secara fisik, namun bathinnya pula ikut menderita, jauh lebih menderita dibandingkan dengan fisiknya yang kini sudah mulai memerah akibat kepanasan.

***

Di selembar surat Dewi menuliskan kesedihan yang ia terimanya tadi siang dan malam mini ia berencana untuk meninggalkan rumah ibunya. Sekotak baju telah ia rapikan, buku-buku pelajaran juga telah ia masukan ke dalam tas punggung yang siap dibawa kemana pun ia akan pergi. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam lewat dua belas menit. Rumahnya yang mungil kini tampak seperti tak berpenghuni, biasanya bila sang ayah ada di rumah tentulah rumah itu tak henti-hentinya digemai oleh suara televisi.

Baru saja dua langkah Dewi menjauh dari pintu utama rumahnya, Dewi langsung mengurungkan niatnya karena mendengar suara sang ibu yang mengaduh-aduh kesakitan. Segera Dewi berlari menuju kamar ibunya. Bu Lastri meminta Dewi mencarikannya seorang bidan atau dukun yang bisa membantu kelahiran bayinya.

Dewi menurut.

Tak lama kemudian Dewi kembali dengan seorang sepuh yang biasa disapaa dengan sebutan Mbah Nyak.

Mbah Nyak langsung menolong Bu Lastri untuk mengeluarkan bayi yang sudah Sembilan bulan itu bersemayam di dalam kandungan sang bunda namun sayang, bayi itu sepertinya enggan keluar.

Sudah berjam-jam Bu Lastri menderita menunggu kelahiran bayinya namun semuanya seperti tak berarti bahkan kini sudah ada seorang bidan kampong yang juga menolong persalinan itu tapi hasilnya masih sama saja.

“Mungkin kamu pernah melakukan kesalahn yang membuat seorang menjadi sakit hati, coba kamu ingat-inat dulu, Bu..” ujar Mbah Nyak pada Bu Lastri.

Bu Lastri mencoba mengingat-ingat siapa orang yang pernah ia lukai hatinya namun tak jua ketemu hingga sesosok Dewi datang menghampiri. Seketika itu air mata Bu Lastri mengalir perih. Ia menangis terisak.

Setelah menceritakan semuanya pada Mbah Nyak, akhirnya Mbah Nyak memberikan sebuah solusi yang teramat enggan dilakukan oleh Dewi.

“Kau harus meminum air bekas cucian kaki Dewi. Hanya segelas saja.” Uajar Mbah Nyak berat mengungkapkan.

Dewi menggeleng pasti namun gelengannya itu tak sekuat baja ketika ia melihat sang ibu merintih kesakitan. Dengan berat hati dan dengan mengucapkan “bismillah’ ia masukan kakinya satu persatu sambil air mata yang terus mengalir.

Setelah mengikuti anjuran Mbah Nyak, tak lama persalinan itu berlangsung dengan lancar. Bayi yang lahir pun begitu sehat. Bu Lastri juga selamat.

Selangkah demi selangkah kaki Dewi melangkah pergi, menjauh dari rumahnya pula menjauh dari tangisan bayi. Ia membulatkan tekadnya untuk meninggalkan rumah beserta isinya, bukan karena ia masih dendam namun ia tak ingin Bu Lastri merasa terhina bila bertemu lagi dengannya karena telah meminum segelas air bekas mencuci kakinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s