Sepucuk Surat Terakhir

Ina sayang.. ibu minta maaf atas segala yang telah ibu perbuat. Mungkin ibu memang terlalu merepotkanmu, Nak. Tapi ibu senang karena kamu menganggap ibu ini seperti ibumu sendiri. Ibu senang ketika kamu bilang gubuk kecil ini milik kita.

Ditengah kegelapan malam, disaat aku baru saja kehilangan ibu kandungku, aku merasa begitu galau. Saat itu berjalan tanpa arah. Berjalan jauh sekali. Aku tak perduli pada perutku yang sudah berhari-hari tidak diisi karena uang hasil mengamen dan mengemis kupakai untuk membeli obat ibuku yang ternyata pada akhirnya Tuhan tidak ingin berlama-lama melihat aku kesusahan mencari uang untuk pengobatan ibu.

Langkahku terhenti ketika kulihat seorang wanita paruh baya yang mirip dengan ibuku tengah menggigil kedinginan sedang tidur di depan pintu besi sebuah toko bangunan. Wanita itu tidur beralaskan Koran bekas tanpa selimut menutupi tubuhnya yang kurus itu.

Kudekati wanita itu lalu aku menangis sambil memeluknya.

“Ibu…” kataku sambil menangis tersedu-sedu.

Wanita paruh baya itu terbangun dan langsung duduk di hadapanku.

“Ibu…” aku memeluk tubuhnya.

“Nak, kamu kenapa?” tanyanya prihatin padaku.

Aku tetap memeluknya erat. Namun aku masih sadar dan masih mampu untuk menceritakan hal buruk yang baru saja menimpaku tadi pagi, subuh-subuh sekali.

Wanita itu menggosok-gosok punggungku dengan lembut. Sungguh aku merasakan aliran kasih sayang darinya.

“Sayang sekali nasibmu, Nak. Siapa namamu?”

“Ina, Bu.” Kataku sesenggukan. “Ibu…” panggilku sebelum Ibu itu memberikan pertanyaan selanjutnya. “Ibu pulang sama Ina, yuk. Ina takut tinggal di rumah sendirian.” Kataku lugu dan tulus padanya.

Seketika itu ia memelukku dengan sangat erat seakan tak ingin terpisahkan lagi. Sejak saat itu Bu Wiyah menjadi ibuku.

Aku dan Bu Wiyah pulang ke rumahku yang kecil. Rumah sangat sederhana sekali namanya.

“Ini gubuk kecil kita, Bu.”

***

Ibu juga sangat senang ketika kamu pulang dengan sebuah koran di tanganmu. Kamu percaya pada ibu kalau ibu bisa mendapatkan uang dengan cara yang lebih baik daripada menjadi seorang pengemis.

“Ibu, baca ini. Kata bapak yang ngasih koran ini buat Ina di sini ada lowongan kerja buat ibu.”

Bu Wiyah menyambutku dengan suka cita. “Sini, mana korannya biar ibu baca.”

“Ibu bisa membaca? Bunda Ina ga bisa membaca. Ina juga, karena Ina ga sekolah.”

Bu Wiyah tertegun mendengar kata-kataku.

“Kalau nanti uang ibu sudah mencukupi, ibu janji akan nyekolahin kamu, Nak.” Katanya saat itu sambil membelai rambutku.

***

Aku meneteskan air mata perih. Ku lanjutkan membaca surat itu.

 

Tapi akhirnya ibu sadar, penghasilan menjadi buruh cuci terlalu sedikit untuk bisa menyekolahkanmu, Nak. Ibu mencari pekerjaan  lain yang penghasilannya jauh lebih besar. Ibu menemukannya, Nak. Bahkan ibu bisa meminjam uang majikan ibu agar bisa menyekolahkanmu agar kamu bisa membaca dan menulis seperti saat ini.

 

Ibu sangat senang memiliki anak seperti Ina meskipun kamu bukanlah anak kandung Ibu, tapi kamu terlalu berarti buat ibu. Kamu tumbuh besar menjadi anak yang pintar ketika ibu ini menjadi pembantu rumah tangga. Dan saat itu ibu bersyukur karena kamu adalah anak yang lugu yang tidak tau ada kasta-kasta materi yang bisa membedakan kita dengan orang lain.

“Bu, kata Vanya, ibu itu ‘pembongkat’. Artinya apa, Bu?” tanyaku lugu saat itu.

“Itu artinya…” ibu berhenti sejenak memikirkan jawaban terbaik yang akan ia ucapkan padaku. “Itu artinya ibu itu suka menolong orang lain. Kamu sekelas sama Vanya ya?”

Aku mengangguk.

“Belajarlah yang rajin. Jangan hiraukan perkataan orang-orang tentang kita. Terkadang orang ingin sekali menjatuhkan harga diri kita untuk mencapai suatu kemenangan yang lain.”

Aku yang saat itu berusia sebelas tahun hanya mengangguk-anggukan kepala tanpa mengerti arti pembicaraan Bu Wiyah.

 

Namun kini kamu sudah dewasa. Kamu sudah mengerti bagaimana peliknya dunia ini. Kamu sudah tau bagaimana rasanya sakit hati dan maalu ketika orang merendahkanmu.

“Hei, Anak Pembantu! Kamu tuh gak pantes sekolah di sini.” Ujar Vanya yang kini lagi-lagi menjadi teman sekelasku ketika aku duduk di bagku SMA.

Aku diam dan saat itu aku merasa begitu malu. Aku benar-benar merasa terhina dengan status itu.

Sepulangnya aku ke rumah aku langsung menjumpai ibuku yang tengah tidur siang.

“Ibu!” aku membentak ibuku dengan suara yang lantang.

Ibu terbangun dengan wajah terkejut dan tanpa mengerti apa yang tengah terjadi.

Aku memandangnya dengan kesal.

“Ada apa, Nak?” Tanya ibu polos.

“Nak? Kamu pikir aku ini sudi menjadi anakmu, hah?” kataku sambil menangis. Rasanya aku sendiripun tak percaya bisa mengucapkan kata-kata itu tapi rasa Maluku menjadi anak pembantu kembali memaksa aku untuk bersikap kasar padanya. “Aku tidak mau menjadi anak pembantu. Kamu itu sangat tidak tau diuntung! Sudah aku berikan tempat tinggal malah akhirnya buat aku malu karena status kamu sebagai pembantu. Pergi kamu dari sini!” kataku lagi.

“Ina, kamu kenapa, Nak?”

“Pergi!”

Entah setan apa yang merasuki tubuhku sehingga aku begitu lancing pada orang yang sudah membesarkan aku hingga aku dapat bersekolah seperti ini.

Aku melangkah ke luar rumah untuk menurunkan emosiku.

Dalam langkahku yang semakin jauh dari rumah bayang-bayang masa lalu ketika aku bertemu dengan ibu kembali. Aku berusaha mengabaikannya hingga aku melewati sebuah toko dimana dulu aku dan Bu Wiyah bertemu. Air mataku menetes tak tertahankan. Aku sadar bahwa aku telah terlalu kasar padanya. Aku beranjak kembali pulang.

“Ibu.. ibu…” seruku setibanya aku di rumah.

Aku mencarinya di kamar, dapur dan kamar mandi namun tak kutemukan sosok itu. Di telingaku terngiang kembali suaraku ketika aku mengusir Ibu. Aku tertunduk lemas di bilik bamboo sekat antara kamar ibu dan dapur.

Aku merindukan Bu Wiyah, ibuku. Aku masuk ke dalam kamarnya dan melihat inci demi inci ruangan kecil itu dan aku temukan sepucuk surat yang ternyata ditujukan untukku. Sepucuk surat terakhir dari ibu yang kemudian pergi meninggalkanku entah kemana.

 

Maafkan ibu karena telah membuatmu begitu terhina, Nak. Ibu pergi sesuai permintaanmu. Ibu hanya mampu mengucapkan terima kasih atas semua yang kamu berikan untuk ibu, Nak.

 

Salam sayang selalu, Ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s