Hadiah Untuk Bapak

Udara siang ini begitu panas. Saking panasnya lidah matahari mampu menjilati tubuhku yang sudah terbungkus pakaian serta jaket yang tebal.

“Sekarang aja kayak gini, apalagi nanti waktu di neraka ya..?” Ujarku pada Rayyan yang tengah aku bonceng di atas Kawasaki Ninja yang baru seminggu ini menjadi milikku.

“Yo’i, Bro! Jadi gimana, tetap mau ikutan balap?”

“Iya lah, itung-itung perkenalan motor baru. Hehehe.. emangnya ada hubungannya ya?”

“Ya ada dong. Balapan kan sama kayak ngantar nyawa. Siap mati kan?!”

“Yup!”

“Siap dipanggang di neraka juga kan?!”

Entah mengapa perkataan Rayyan kali ini terdengar ngeri padahal biasanya aku malah bermain-main dengan kata neraka itu. Aku tak menggubris perkataan Rayyan, aku terus melaju kencang dengan motor kesayanganku.

Sesampainya aku di rumah, aku tak membuang waktu untuk segera menyiapkan segala sesuatunya untuk balapan liar yang akan diselenggarakan nanti malam, termasuk menyiapkan mental.

Malam ini aku akan mempertaruhkan nyawaku di jalan Teuku Umar. Di sanalah tempat kami menghabiskan malam.

“Alik, kamu mau balapan lagi ya?” tanya Bapakku yang berdiri di depan pintu kamarku.

Alasan beliau tiba-tiba bertanya sepeti itu pasti karena dari tadi Bapak terus memperhatikan apa yang aku perbuat.

“Sebaiknya kamu berhenti mencari uang dengan cara seperti itu, Nak. Biar bapak aja yang bekerja untuk kita. Kalau ibumu masih bersama kita, pasti dia juga ga akan setuju dengan kenakalan kamu ini.”

“Jangan bawa-bawa ibu, Pak. Ibu udah meninggal dan dia ga akan peduli dengan apa yang Alik buat.” Kataku kasar karena masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa ibuku memang sudah dipanggil Tuhan. “Pak, Alik ga tega liat bapak harus susah-susah kerja dorong gerobak butut untuk jual gorengan yang hasilnya ga seberapa. Bahkan rasa capek Bapak ga terobati dengan hasil jualan gorengan. Biar Alik aja yang cari duit. Tuh liat hasilnya, Pak, Alik bisa beli motor pake uang taruhan dari kawan-kawan. Bapak tenang aja, Alik ga akan kenapa-kenapa kok, Pak. Bapak do’ain aja ya..”

Bapak menundukkan wajahnya, mungkin Bapak mulai lelah menasehatiku. Melihat wajah Bapak yang penuh kecemasan membuat aku merasa ling-lung. Aku takut Bapak tidak merestui keinginanku, kalau itu terjadi tidak akan mungkin aku bisa memenangkan balapan kali ini.

“Pak, Alik janji ini kali terakhir Alik balapan. Alik janji. Mohon restunya, Pak. Alik janji akan pulang dengan selamat, Insya Allah, Pak. Kalo Alik menang, uang taruhan kali ini kita pake untuk buka usaha warung di depan rumah kita ya, Pak?!” ujarku dengan bersungguh-sungguh.

Betapa terkejutnya aku melihat Bapak meneteskan air matanya di hadapanku. Air mata itu mengalir melewati garis-garis keriput di wajahnya.

“Maafin Bapak ya, Lik, Bapak ga bisa membuat kamu dan ibumu senang.”

Sakit. Rasanya begitu pilu.

Air mata Bapak adalah jimat bagiku. Jimat yang membuatku kuat untuk membulatkan tekatku, ‘aku harus menang!’

Pukul 12 malam aku sudah siap menunggu teman-temanku untuk memulai pertarungan malam ini di jalan Teuku Umar. Jalannya lurus dan sepi. Di kanan dan kiri jalan itu terdapat toko-toko yang sudah tutup tentunya. Tak jauh dari tempatku berdiri terdapat mesjid dengan kubah topi Teuku Umar.

Rayyan yang menemaniku terus mewanti-wanti agar aku harus jauh lebih berhati-hati dalam menghadapi lawanku yang sudah profesional. Ya, musuhku malam ini adalah seorang pembalap liar yang sudah sangat profesional makanya ia berani mempertaruhkan uang dalam jumlah yang sangat besar bila aku menang darinya.

“Eh, anak penjual gorengan, ambil uang ini dan berubahlah menjadi anak konglongmerat. Hahaha…” ujar rivalku sambil melemparkan koper berisi uang ke tanganku. “Kalo lo kalah,.. Die!” sambungnya lagi mengancamku.

Mungkin rivalku ini terlalu meremehkan aku. Dia tidak tau apa yang baru saja ia lontarkan adalah penyemangat bagiku.

“Dooorrr!” suara letusan menandakan pertandingan telah dimulai.

Entah apa yang terjadi, aku merasa begitu PD-nya menghadapi lawanku yang satu ini. Mungkin karena kesombongannya, mungkin juga karena air mata Bapak, bahkan mungkin karena aku begitu takut mati. Tiba-tiba aku kembali teringat pembicaraanku dengan Rayyan tadi siang. Keringat dingin keluar dari dalam tubuhku namun aku masih berkonsentrasi pada jalan di hadapanku.

‘Aku harus menang! Demi Bapak!’ bathinku.

Aku melihat lawanku tertinggal jauh di belakang, mungkin sesuatu terjadi pada motornya sehingga ia bisa kalah telak denganku namun itu semua tidak kuhiraukan sama sekali. Aku terus melajukan Ninjaku.

Aku masuk ke garis finish. Penonton berseru semangat sampai tiba-tiba tim juri mengatakan perlombaan kali ini batal karena motor rivalku rusak. Penonton bersorak tidak terima. Ada yang mengatakan itu hanya alasan, tidak sportif, ada juga yang mengatakan bahwa rivalku itu masih buta dengan jalanan di sini karena dia itu adalah seorang pendatang.

“Besok sore kita tanding ulang di jalan Ulelhee. Malam ini lo selamat dari maut.” ujar sang rival dengan sombong dan angkuh.

Aku jadi tidak bersemangat lagi dengan ini semua karena tadi aku sudah berjanji pada Bapak kalau malam ini akan menjadi kali terakhir aku balapan.

Tapi janji itu harus aku abaikan. Semua ini demi kebahagiaan Bapak. Aku mengiyakan permintaan rivalku.

Aku pulang tanpa ingin menemui Bapak agar Bapak tidak tau apa yang baru saja terjadi dan apa yang akan terjadi besok.

Keesokan sorenya aku sudah standby di jalan Ulelhee. Aku hanya harus menunggu sang rival untuk menjalankan perlombaan ini.

“Rame banget, Bro. Hati-hati ya!” Rayyan kembali mengingatkanku setelah tadi sudah mewanti-wantiku saat perjalanan ke sini.

“Siiip..”

“Cuma dua lap kan?!”

Aku mengangguk.

Setelah bunyi letusan, motorku kembali melaju kencang dan dengan gesit menyelip sampai akhirnya akku lagi-lagi berhasil meninggalkan rivalku hingga di garis finish. Betapa bahagianya aku karena kali ini tidak ada satu hal pun yang dapat membatalkan kemenanganku.

Aku mengambil koper berisi uang yang sudah ada di tangan Rayyan.

“Mau ke mana, Bro?”

“Bapak!” jawabku sekenanya.

Segera aku luncurkan motorku sambil membawa berjuta kebahagiaan dengan kecepatan tinggi bahkan aku tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

“Bruukk!!”

Koper kebahagiaan itu terjatuh. Aku menoleh kebelakang dan terfokus pada koper itu tanpa aku sadari aku mulai tidak mengontrol laju motorku hingga tiba-tiba…

“Braaakk!!!”

“Allahu Akbar!”

“Aduh!” aku meringis perih.

Tanpa ingin memperdulikan apa dan siapa yang baru saja aku tabrak, aku berlari hendak mengambil koperku yang terjatuh.

“Syukurlah, uang untuk Bapak masih bisa aku selamatin.” ujarku girang.

Aku kembali berlari menghampiri gerobak… ‘itu gerobak Bapak!’ Bathinku.

Aku berlari kencang menghampiri kerumunan orang-orang yang tengah mengerumuni orang yang aku tabrak tadi. Aku berharap itu bukanlah Bapak, tapi itu mustahil!

Kulihat Bapak telah terkapar dengan kulit yang melepuh akibat tersiram minyak panas. Kepalanya juga banyak mengeluarkan darah akibat terbentur dengan badan jalan. Tubuhnya meronta-ronta kesakitan. Dari mulutnya juga menyemburkan darah yang begitu kental.

Aku menangis kemudian memeriksa denyut nadinya. Tak berdenyut. Napasnya juga tak ada. Tubuh Bapakpun berhenti meronta.

Aku menangis sejadi-jadinya. Inikah hukuman atas ingkar janjiku? Aku hanya berserah diri pada Tuhanku. Kini uang itu benar-benar tak berarti lagi bagiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s