Dilema Dua Hati

Cinta..

Cinta itu indah, memang indah, sangat indah. Tapi tidaklah cinta itu selamanya indah. Terkadang cinta itu adalah sakit. Menyakitkan.

Apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang saat ini aku rasakan? Apa yang selama ini tersimpan di dalam hatiku?

Aku menyembunyikan semua gelisahku pada malam. Mencurahkan isi hatiku pada dinding-dinding kamar. Menghamburkan setiap tangisku pada bantal tidur yang sebenarnya lebih mengerti siapa diriku daripada ‘dia’. Aku tau semua ini adalah salahku. Dia tidak pernah mengerti aku karena aku tidak pernah berkata jujur padanya. Tidak pernah bersikap jujur.

Aku selalu merasakan cinta yang sakit kala aku bersama dia. Aku seperti sedang membunuh diriku sendiri. Membunuhnya secara perlahan. Benar-benarmenyakitkan. Aku sering menangisi diriku sendiri dan selalu merasa bersalah telah bersama dengannya selama lima tahun dan selama itulah akku tidak pernah benar-benar mencintainya.

Aku memang sering mengatakan “aku mencintaimu” atau “aku juga sangat mencintaimu” tapi taukah dia bahwa itu semua hanyalah kata-kata palsu yang aku tujukan untuk menghiburnya.

Ah.. aku lelah untuk menangisi diriku sendiri. Aku selalu saja merasa seperti ini, berpikir seperti ini setiap kali aku bertemu dengan I-Am, seorang laki-laki yang entah sejak kapan berhasil membuat aku jatuh hati bahkan tergila-gila pada dirinya yang amat biasa saja. Bahkan biala aku bandingkan I-am dengan dia, tak ada satu hal yang membanggakan dari diri I-Am kecuali caranya menggoda hatiku.

Mengingatnya membuat aku kembali membayangkan masa lalu saat awal aku diteror olehnya melalui telepon. Aku mencintai I-Am bahkan sebelum kami bertemu, tidak, bukan begitu. Sebelumnya kami sudah pernah bertemu tapi aku tidak pernah tau bahwa dirinya itu adalah I-Am. Aku mengenal I-Am hanya sebagai seorang penggemarku dan I-Am selalu menerorku melalui telepon hingga empat tahun kemudian kami benar-benar bertemu dan aku semakin jatuh cinta padanya. Cara ia memangdangiku, memegang tanganku, memperlakukan aku, oh… aku benar-benar tidak bisa menampiknya lagi. Ini cinta!

Andai saja Arya juga demikian. Ah, ini bukan salah Arya, ini salahku sendiri. Seharusnya aku tidak pernah menerima cinta Arya bila aku memang tidak mencintainya. Tapi saat itu aku benar-benar galau. Aku benci menunggu I-Am yang tak kunjung memperlihatkan wujudnya. Aku kesal karena I-Am hanya bisa megutarakan isi hatinya melalui telepon. Aku benar-benar marah karena aku tidak bisa memilikinya.

Pagi ini entah ada angin apa I-Am datang ke rumahku. Sebuah kejutan dari Tuhan.

“Kangen aja. Udah lama ga ketemu jadi…” I-Am tidak melanjutkan kalmatnya.

Aku mempersilahkan I-Am masuk tapi ia menolak.

“Di sini ajalah. Aku cuma ingin liat kamu aja kok. Sebentaaaaarrr aja.”

Aku tersipu malu kemudian melempar secuil senyum penuh arti padanya.

Jantungku terus berdebar tak karuan. Aku rasakan pipiku bersemu merah setiap kali kucuri pandang melihat matanya yang tak henti memandangi wajahku.

“Aku nyesal liat kamu. Huft!”

“Kenapa?” tanyaku yang terkejut mendengar pernyataan itu.

“Ya karena wajah kamu pasti akan jadi bayang-bayang aku lah.. itu yang bikin aku males ketemu sama kamu, tau!!!” katanya sambil mengacak-acak rambutku. “Sayangnya kamu itu udah pilih dia sebagai orang yang paling beruntung dan aku adalah manusia yang paling sial!” katanya lagi sambil menyapu wajahnya.

Aku tertegun mendengar kata-katanya. Andai saja dia tau isi hatiku. “Aku menyesal telah memilih dia dan bukan kamu..” bathinku sambil melihat punggungnya yang perlahan menjauh dan kemudian menghilang.

Di radio terputar lagu Zigaz-Hanya Untuk Hari Ini. Sial! Aku seperti tengah digoda untuk mencoba mencintai dua hati. Aku juga ingin hari ini adalah hariku bersama dengan I-Am. Hanya untuk hari ini dan besoknya aku akan kembali pada Arya tanpa merubah apapun yang ada di hatiku. Andai aku bisa memilih untuk bersama I-Am walau sehari saja pasti aku akan merasakan betapa indah cinta yang sesungguhnya.

Aku terkejut ketika sebuah kecupan mendarat di keningku.

“Arya?!”

Arya mengambil tempat duduk di sampingku sambil memelukku dengan mesra.

“Entah ada apa, entah kenapa, aku sendiri juga bingung, jangan tanya apapun.”

Aku diam sambil mengerenyitkan dahi. Aku bingung dengan kata-katanya.

“Tiba-tiba aja aku ngerasa takut kehilangan kamu. Tiba-tiba aja jantung aku sakit, sakt banget bahkan aku sampe ngeluarin air mata. Masalahnya adalah rasa sakit itu datangnya barengan sama pikiran aku yang sedang ketakutan kehilangan kamu, Na..” ujar Arya yang lagi-lagi mengecup keningku dengan mesra.

Tak hanya Arya, kini akupun merasakan sakit yang amat mendalam. Apa yang telah aku lakukan? Aku menyakiti hati orang yang menyayangiku dengan tulus. Aku hanya berpura mencintainya dan yang menyedihkan adalah aku tidak pernah memberikannya setetes cinta yang selalu ia nanti.

“Kamu tau ga, Na.. kadang aku berpikir kalau kamu ga benar-benar sayang sama aku. Aku sediiiiihhh banget. Cuma gara-gara cinta aku jadi cengeng. Tapi cinta itu memang gitu, Na.. kadang-kadang menyenangkan dan kadang-kadang menyakitkan. Tapi kamu tenang aja karena aku ngasih cinta yang sempurna buat kamu supaya kamu ngerasain cinta yang indah dan tentunya supaya kamu ga selingkuh hati!”

Tanpa kusadari tetesan bening penuh kepahitan menetes dari sudut mataku.

“Kamu nangis, terharu ya?!” tanya Arya mengajakku bergurau.

Aku menggeleng. Ingin rasanya aku jujur tapi wajah polos Arya membuat aku luluh hingga kembali kusimpan derita cinta ini sendiri dan aku biarkan cinta ini memilih I-Am dan tak membiarkan Arya mengetahui bahwa aku telah menyuguhkannya cinta yang pahit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s