Tentang Ridu

Ini adalah tentang rasa, tentang rindu.. rindu yang tak berlabuh, rindu yang tak menemukan dermaganya namun terus mencari…

Ini adalah pembicaraan dari hati ke hati..

 

“adakah dirimu merindukanku…” ia bertanya manis padaku. Masih dengan senyuman yang sama. Senyuman penuh tulus.

“bergunakah rinduku padamu?” tanyaku berbasa-basi. Tanya seorang yang tak lagi percaya akan segala rasa.

“rindu itu bahasa kalbu… jadi gunanya pun hanya untuk kalbu…” jawabnya masih dengan pandangan yang sama seperti dulu, kemarin dan mungkin berlaku hingga aku mati.

“bila bagimu rindu itu tak tahu dimana gunanya, lalu akan kau arahkan kemanakah rasa yang kau punya…” tanyanya sambil mengangkat wajahku yang menunduk.

“biarkanlah… karena rindu pun bukan sebongkah donat, yang dapat dipesan dalam loyang…” katanya puitis.

“Kau tau bahwa wajahmu, senyummu, dan manja suaramu, adalah sumber inspirasiku dalam menciptakan kata agar dirimu mendekat kepadaku…” katanya menggenggam tanganku. Wajahnya mendekat padaku.

“seberapa lamakah aku harus menunggu rindumu…” matanya menatapku dalam, penuh arti.

Aku diam.

“seperti gunanya rindu, kapan datangnya pun kau tak tahu. ah… ada apakah dengan hatimu hai rinduku…” tubuhnya berbalik, menjauhiku lalu kembali mendekat.

“bukan aku tak ingin merindu, namun rindu pernah pupuskan harapku, hingga kini kujauhi rindu..” ungkapku jujur.

“hidup itu penuh liku, saat rindu itu pupuskan harapmu, masih panjang jalan untuk merajutnya..” katanya lagi memberi harapan.

“kutau jalan ini panjang, dan hidup ini luas, tapi bila asa tlah tiada, rindupun tlah tiada gunanya..” kataku melemah. “pernah kucoba tuk merindu tapi aku jatuh dan kembali gagal, terpuruk dalam kebencian,” sambungku.

“hidup itu indah sayang, pupusnya harapan hanyalah ujian. selalu ada hikmah di dalamnya, dan aku – merangkulmu dalam rinduku untuk melengkapi asamu…” tangannya membelai lembut pipiku yang bersemu merah.

Ku pindahkan tangan itu dari wajahku, “maaf,.. saat ini sungguh aku tak ingin merindu. mungkin benar aku lemah, aku kalah, namun semua itu bukan inginku.. aku hanya pernah merasakan betapa sakitnya merindu tanpa dirindu. kuharap engkau tak mengalami hal yang sama denganku…” kataku tak ingin lagi memberi harapan.

“Dan aku akan tetap menjadi perindumu…” ujarnya sambil mengecup kedua tanganku.

 

Kubiarkan..

 

** terinspirasi dari pesan masuk di facebook dari seorang penulis🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s