Dilema Dua Hati (Ketika Telah Memilih)

Sekarang kami sama-sama diam dalam heningnya malam. Tidak betul-betul hening karena kami tengah berada di area pasar malam di pusat kota. Kami merasakan hening karena hati kami yang mulai membeku tak ada lagi obat pencairnya, sehingga bilapun mencair tentulah rasanya akan dingin. Itu yang sedang kami hadapi sekarang.

Aku dan I-Am duduk berseblahan. Setelah mengucapkan ‘selamat’ dengan dingin ia diam dan demikian pula aku. tak ada aktifitas lain yang kami lakukan selain diam dan aku diam sambil menunduk. Kakiku usil memainkan genangan air yang ada di bawah kursi taman.

“Jadi aneh ya?” tanyanya setelah lamanya aku menunggu ia untuk bersuara.

“Nggak, ah, biasa aja.” Jawabku berbohong.

“Aneh kok.”

“iya, aneh.”

Kami kembali diam. Entah apa maksud semua ini. Mungkin kami saling menebak atau saling menunggu untuk melanjutkan pembicaraan tapi akhirnya lagi-lagi dia yang mengalah.

“Akhirnya ada juga yang terpilih ya,”

Aku mengangguk, “Ehm, iya.”

“Dari berapa banyak pejuang?”

Aku ragu untuk menjawab. Sejujurnya aku tak merasa banyak yang berjuang untuk mendapatkan satu yang dimaksud.

“Gimana rasanya, senang?” tanyanya lagi.

“Kamu yang lebih tau.”

“Aku ga tau apa-apa lagi sekarang. Semua tebakan aku kayaknya salah. Semua perkiraan aku meleset.”

“Sama.”

“Sama apanya? Semuanya kan sesuai scenario kamu, Na.”

“Am,…”

“Aku kira aku Cuma kalah untuk jadi pacar kamu, tapi setelah kemarin.. nyatanya aku juga kalah untuk lamar kamu.” Ujar I-am kemudian beranjak pelan dari kursi sambil mondar-mandir di hadapanku. “Haaah,.. kalah dua kali itu artinya apa ya?” tanyanya tak perlu jawaban.

“Am…”

“Ah, yasudahlah. Berharap menang dalam babak akhir pun percuma. Ya kan?!” kali ini I-Am berhenti di depan wajahku.

Aku bingung harus berkata apa. Ingin sekali aku menyalahkan salah satu antara I-Am, Arya dan aku tapi bagaimana mungkin aku memilih Arya sebagai kambing hitamnya? Rasanya selama ini laki-laki itu sudah cukup tersiksa dengan kebohongan cinta yang aku suguhkan. Tapi aku juga tidak ingin menyalahkan diriku sendiri atas semua yang sudah terjadi, I-Am adalah satu-satunya orang yang pantas disalahkan. Kalau dia memang benar-benar menginginkan aku, mencintai aku kenapa ia tidak langsung saja melamar aku, kenapa???

“Ya udah, kita pulang sekarang!” katanya seraya menarik tanganku.

Baru beberapa langkah kami meninggalkan kursi taman itu kemudian aku menghentikan langkahku.

I-Am berbalik. “Kenapa?”

ada sesuatu yang tidak bisa kutahan dan sedari tadi sudah sangat ingin menyembul keluar. Air mata itu mengalir.

“Setelah ini apa kita ga akan ketemu lagi?” tanyaku penuh dengan rasa takut kehilangan yang besar.

“Lebih baiknya ya begitu. Ayo,” I-Am kembali menarik lenganku tapi aku enggan beranjak. Aku masih menagis ketakutan.

“Aku mau bicara.”

“Nanti bicara di jalan aja.”

“Aku mau bicara sekarang.”

“Ini udah malam, Na,”

“Dulu kamu bilang aku harus milih satu yang pasti supaya yang lain ga berharap lagi sama aku. dulu kamu juga bilang kamu sayang dan cinta sama aku. dulu kamu bilang,..”
“Stop, Na! cukup.”

Aku terdiam tak dapat malanjutkan kalimat yang padahal sudah sejak tadi aku pikirkan. Aku hanya mampu menangis ketika melihat wajah laki-laki yang aku cintai berubah seperti marah. Aku juga dapat menangkap air mata yang membendung disana.

“Yang kamu bilang semuanya benar. Aku yang bilang itu semua. Aku yang mau kamu milih satu diantara semua teman lelaki yang kamu punya. Aku.. aku.. aku yang salah karena sejak dulu ga berani ngambil sikap. Kamu milih Arya adalah sesuatu hal yang wajar dan langkah itu udah betul. Dengan demikian aku atau teman kamu yang lainnya jadi tau harus bersikap seperti apa sama kamu.”

“Am,..”
“Untuk sementara, biarin aku bersikap kayak gini. Walau gimana pun aku juga sakit terima kenyataan ini. Kita pulang.”

I-Am melepaskan genggaman tangannya lalu melangkah pelan menunggu aku mengikutinya dari belakang.

kupandangi pungung bidang itu yang berlalu lambat dan menyisakan pahit dan sakit yang mendalam. Memang aku harus terima kenyataannya, aku telah memilih Arya sebagai laki-laki yang akan mendampingi hidupku, dan I-Am… ia terpilih sebagai kenangan masa lalu. Kenangan terindah yang aku miliki.

2 thoughts on “Dilema Dua Hati (Ketika Telah Memilih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s