Selingkuh

Gambar

Sebelumnya aku tidak pernah mengenal terang atau pun cahaya hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Kau menyebut dirimu Surya. Sejak bertemu denganmu, aku dapat melihat apa yang ada di sekitarku, melihat betapa indahnya dunia. Aku merasa amat bahagia. Tapi terkadang cahayamu meredup, kucari tau alasannya dan ternyata itu semua karena awan. Dia menutupimu hingga kau tak mampu sepenuhnya memberikan cahayamu padaku. Ah, tak mengapa pikirku asalkan kau tidak meningalkan aku, asal aku masih bisa melihat, apa yang ingin kau lakukan ya lakukan saja.

Malam menjelang dan engkau menghilang. Aku kembali berteman dengan Bulan dan Bintang, tapi mereka pun tak bisa terus bersamaku ketika lagi-lagi awan menjadi pengganggu. Aku benci hal yang seperti ini. Aku ingin mengadu padamu, tapi kau bilang padaku, “Kita hanya bisa bertemu pada saat-saat  tertentu dan awan adalah sahabat baikku,” itu membuatku sedih. Aku kembali tenggelam dalam malam yang hitam.

Pagi ini kau kembali menyapaku dengan hangat, tapi kemudian langit sepertinya memberi isyarat buruk. Apa itu? Aku tidak mengerti. Tak berapa lama kemudian awan yang bergumpal datang lalu menutupimu, aku kembali terperangkap dalam gelap, aku kehilangan cahayamu.

Langit menangis melambangkan hatiku. Aku tersudut berharap ada seberkas cahaya dan sedikit kehangatan untuk memberiku sedikit semangat.

Malam kembali menyapa, Bulan dan Bintang sedikit menerangiku dan mengajakku bertemu dengan sesuatu, mereka bilang sesuatu itu adalah lampu, katanya lampu itu akan menerangiku setiap waktu, katanya lampu jauh lebih baik daripada Surya, ia tidak akan meningalkanku. Dengan segala penjelasan dari Bulan akhirnya aku bersahabat dengan lampu. Memang benar ia setia, tapi dia tidak hangat, dia kaku, aku tak bisa tertawa lepas dengannya, aku ingin bahagia!!!

Oh, tiba-tiba gelap kembali datang. Ada apa? Lampu, dimana kau? Aku berteriak dan tak ada jawaban. Sayang, ternyata dia tak sesetia yang aku bayangkan. Yasudahlah, aku pun tak terlalu berharap padanya.

Surya masih seperti biasa, datang ketika dia ingin dan awan selalu menjadi penganggu hubunganku dengannya. Aku jenuh. Aku kesal. Kumantapkan hati untuk kembali saja pada kehidupanku yang dulu, saat aku tidak mengenal cahaya.

Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu dan aku mulai terlihat gila tanpa terang. Aku berteriak-teriak memanggil bantuan.

“Bulan, Bintang, tolong kenalkan aku pada cahaya yang abadi! Aku tak ingin hidup seperi ini. Sendiri dalam gelap dan sunyi. Tolong aku…”

“Tidak ada cahaya yang abadi, tapi bila kamu ingin, aku bersedia menjadi penerang dalam gelapmu. Aku akan bertahan semampuku. Aku akan menghangatkanmu. Aku akan memberi yang kau inginkan. Aku pun tak mengapa bila suatu saat kau kembali pada Surya. Tak mengapa bila kau datangi aku ketika kau butuh, aku tak menuntut apa pun darimu. Dan jangan hiraukan tubuhku yang terbakar, karena memang begitulah caraku..”

Sejak saat itu aku tidak pernah merasa sepi. Lilin dan api kecil itu lincah. Gerak-geriknya membuatku semangat. Ia juga hangat. Ketika Surya datang, ia tak berkomentar apa pun. Mungkin karena ia tau cahaya Surya lebih baik darinya. Dia bilang, ia hanya ingin aku mendapatkan yang terbaik. Kehangatan Surya pun jauh lebih baik daripadanya, tapi sayangnya Surya datang ketika dia ingin dan pergi ketika ia bosan. Ia juga tak berkutik bila awan mengganggu kami, berbeda dengan Lilin dan api kecilnya, mereka bertahan meski angin berkali-kali menhembusnya.

Surya, apa kau tau, ketika kau tak ada aku berpaling pada Lilin dan api kecilnya yang selalu setia padaku.

Gambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s