Selingkuh

Gambar

Sebelumnya aku tidak pernah mengenal terang atau pun cahaya hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Kau menyebut dirimu Surya. Sejak bertemu denganmu, aku dapat melihat apa yang ada di sekitarku, melihat betapa indahnya dunia. Aku merasa amat bahagia. Tapi terkadang cahayamu meredup, kucari tau alasannya dan ternyata itu semua karena awan. Dia menutupimu hingga kau tak mampu sepenuhnya memberikan cahayamu padaku. Ah, tak mengapa pikirku asalkan kau tidak meningalkan aku, asal aku masih bisa melihat, apa yang ingin kau lakukan ya lakukan saja.

Malam menjelang dan engkau menghilang. Aku kembali berteman dengan Bulan dan Bintang, tapi mereka pun tak bisa terus bersamaku ketika lagi-lagi awan menjadi pengganggu. Aku benci hal yang seperti ini. Aku ingin mengadu padamu, tapi kau bilang padaku, “Kita hanya bisa bertemu pada saat-saat  tertentu dan awan adalah sahabat baikku,” itu membuatku sedih. Aku kembali tenggelam dalam malam yang hitam.

Pagi ini kau kembali menyapaku dengan hangat, tapi kemudian langit sepertinya memberi isyarat buruk. Apa itu? Aku tidak mengerti. Tak berapa lama kemudian awan yang bergumpal datang lalu menutupimu, aku kembali terperangkap dalam gelap, aku kehilangan cahayamu.

Langit menangis melambangkan hatiku. Aku tersudut berharap ada seberkas cahaya dan sedikit kehangatan untuk memberiku sedikit semangat.

Malam kembali menyapa, Bulan dan Bintang sedikit menerangiku dan mengajakku bertemu dengan sesuatu, mereka bilang sesuatu itu adalah lampu, katanya lampu itu akan menerangiku setiap waktu, katanya lampu jauh lebih baik daripada Surya, ia tidak akan meningalkanku. Dengan segala penjelasan dari Bulan akhirnya aku bersahabat dengan lampu. Memang benar ia setia, tapi dia tidak hangat, dia kaku, aku tak bisa tertawa lepas dengannya, aku ingin bahagia!!!

Oh, tiba-tiba gelap kembali datang. Ada apa? Lampu, dimana kau? Aku berteriak dan tak ada jawaban. Sayang, ternyata dia tak sesetia yang aku bayangkan. Yasudahlah, aku pun tak terlalu berharap padanya.

Surya masih seperti biasa, datang ketika dia ingin dan awan selalu menjadi penganggu hubunganku dengannya. Aku jenuh. Aku kesal. Kumantapkan hati untuk kembali saja pada kehidupanku yang dulu, saat aku tidak mengenal cahaya.

Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu dan aku mulai terlihat gila tanpa terang. Aku berteriak-teriak memanggil bantuan.

“Bulan, Bintang, tolong kenalkan aku pada cahaya yang abadi! Aku tak ingin hidup seperi ini. Sendiri dalam gelap dan sunyi. Tolong aku…”

“Tidak ada cahaya yang abadi, tapi bila kamu ingin, aku bersedia menjadi penerang dalam gelapmu. Aku akan bertahan semampuku. Aku akan menghangatkanmu. Aku akan memberi yang kau inginkan. Aku pun tak mengapa bila suatu saat kau kembali pada Surya. Tak mengapa bila kau datangi aku ketika kau butuh, aku tak menuntut apa pun darimu. Dan jangan hiraukan tubuhku yang terbakar, karena memang begitulah caraku..”

Sejak saat itu aku tidak pernah merasa sepi. Lilin dan api kecil itu lincah. Gerak-geriknya membuatku semangat. Ia juga hangat. Ketika Surya datang, ia tak berkomentar apa pun. Mungkin karena ia tau cahaya Surya lebih baik darinya. Dia bilang, ia hanya ingin aku mendapatkan yang terbaik. Kehangatan Surya pun jauh lebih baik daripadanya, tapi sayangnya Surya datang ketika dia ingin dan pergi ketika ia bosan. Ia juga tak berkutik bila awan mengganggu kami, berbeda dengan Lilin dan api kecilnya, mereka bertahan meski angin berkali-kali menhembusnya.

Surya, apa kau tau, ketika kau tak ada aku berpaling pada Lilin dan api kecilnya yang selalu setia padaku.

Gambar

Dilema Dua Hati (Ketika Telah Memilih)

Sekarang kami sama-sama diam dalam heningnya malam. Tidak betul-betul hening karena kami tengah berada di area pasar malam di pusat kota. Kami merasakan hening karena hati kami yang mulai membeku tak ada lagi obat pencairnya, sehingga bilapun mencair tentulah rasanya akan dingin. Itu yang sedang kami hadapi sekarang.

Aku dan I-Am duduk berseblahan. Setelah mengucapkan ‘selamat’ dengan dingin ia diam dan demikian pula aku. tak ada aktifitas lain yang kami lakukan selain diam dan aku diam sambil menunduk. Kakiku usil memainkan genangan air yang ada di bawah kursi taman.

“Jadi aneh ya?” tanyanya setelah lamanya aku menunggu ia untuk bersuara.

“Nggak, ah, biasa aja.” Jawabku berbohong.

“Aneh kok.”

“iya, aneh.”

Kami kembali diam. Entah apa maksud semua ini. Mungkin kami saling menebak atau saling menunggu untuk melanjutkan pembicaraan tapi akhirnya lagi-lagi dia yang mengalah.

“Akhirnya ada juga yang terpilih ya,”

Aku mengangguk, “Ehm, iya.”

“Dari berapa banyak pejuang?”

Aku ragu untuk menjawab. Sejujurnya aku tak merasa banyak yang berjuang untuk mendapatkan satu yang dimaksud.

“Gimana rasanya, senang?” tanyanya lagi.

“Kamu yang lebih tau.”

“Aku ga tau apa-apa lagi sekarang. Semua tebakan aku kayaknya salah. Semua perkiraan aku meleset.”

“Sama.”

“Sama apanya? Semuanya kan sesuai scenario kamu, Na.”

“Am,…”

“Aku kira aku Cuma kalah untuk jadi pacar kamu, tapi setelah kemarin.. nyatanya aku juga kalah untuk lamar kamu.” Ujar I-am kemudian beranjak pelan dari kursi sambil mondar-mandir di hadapanku. “Haaah,.. kalah dua kali itu artinya apa ya?” tanyanya tak perlu jawaban.

“Am…”

“Ah, yasudahlah. Berharap menang dalam babak akhir pun percuma. Ya kan?!” kali ini I-Am berhenti di depan wajahku.

Aku bingung harus berkata apa. Ingin sekali aku menyalahkan salah satu antara I-Am, Arya dan aku tapi bagaimana mungkin aku memilih Arya sebagai kambing hitamnya? Rasanya selama ini laki-laki itu sudah cukup tersiksa dengan kebohongan cinta yang aku suguhkan. Tapi aku juga tidak ingin menyalahkan diriku sendiri atas semua yang sudah terjadi, I-Am adalah satu-satunya orang yang pantas disalahkan. Kalau dia memang benar-benar menginginkan aku, mencintai aku kenapa ia tidak langsung saja melamar aku, kenapa???

“Ya udah, kita pulang sekarang!” katanya seraya menarik tanganku.

Baru beberapa langkah kami meninggalkan kursi taman itu kemudian aku menghentikan langkahku.

I-Am berbalik. “Kenapa?”

ada sesuatu yang tidak bisa kutahan dan sedari tadi sudah sangat ingin menyembul keluar. Air mata itu mengalir.

“Setelah ini apa kita ga akan ketemu lagi?” tanyaku penuh dengan rasa takut kehilangan yang besar.

“Lebih baiknya ya begitu. Ayo,” I-Am kembali menarik lenganku tapi aku enggan beranjak. Aku masih menagis ketakutan.

“Aku mau bicara.”

“Nanti bicara di jalan aja.”

“Aku mau bicara sekarang.”

“Ini udah malam, Na,”

“Dulu kamu bilang aku harus milih satu yang pasti supaya yang lain ga berharap lagi sama aku. dulu kamu juga bilang kamu sayang dan cinta sama aku. dulu kamu bilang,..”
“Stop, Na! cukup.”

Aku terdiam tak dapat malanjutkan kalimat yang padahal sudah sejak tadi aku pikirkan. Aku hanya mampu menangis ketika melihat wajah laki-laki yang aku cintai berubah seperti marah. Aku juga dapat menangkap air mata yang membendung disana.

“Yang kamu bilang semuanya benar. Aku yang bilang itu semua. Aku yang mau kamu milih satu diantara semua teman lelaki yang kamu punya. Aku.. aku.. aku yang salah karena sejak dulu ga berani ngambil sikap. Kamu milih Arya adalah sesuatu hal yang wajar dan langkah itu udah betul. Dengan demikian aku atau teman kamu yang lainnya jadi tau harus bersikap seperti apa sama kamu.”

“Am,..”
“Untuk sementara, biarin aku bersikap kayak gini. Walau gimana pun aku juga sakit terima kenyataan ini. Kita pulang.”

I-Am melepaskan genggaman tangannya lalu melangkah pelan menunggu aku mengikutinya dari belakang.

kupandangi pungung bidang itu yang berlalu lambat dan menyisakan pahit dan sakit yang mendalam. Memang aku harus terima kenyataannya, aku telah memilih Arya sebagai laki-laki yang akan mendampingi hidupku, dan I-Am… ia terpilih sebagai kenangan masa lalu. Kenangan terindah yang aku miliki.

Jemaan Iblis Betina

Tak mampu kau selipkan kebusukanmu

Yang mampu mencemarkan nama baikmu

Wanita dengan dengki berdiri angkuh

Dengan sayap iblis yang mengembang

Ia terbang mengapai kehancuran

Wanita berselimut putih dibalik dinding suci

Ia tak dapat menyembunyikan api amarahnya yang berkobar

Membakar hati yang terjebak dalam permainannya

Wanita yang mengumbar aibnya

Ia masih berdiri angkuh

Meski malaikat jibril di sampingnya

Wahai iblis betina yang menjelma menjadi wanita

Jatuhkanlah pedang-pedang permusuhan

Hentikanlah kegaduhan yang kau cipta!

Gambar

Contoh Format Scenario (KARMA)

 

KARMA

 

SCENE I

FADE EXT. RUMAH ITA. DI DEPAN RUMAH ITA. PAGI
ITA.DEWI

Hari masih sangat pagi . Ita sedang mencuci pakaian ibunya sambil mengomel.

ITA 

Aduh baunya,.. beginilah kalau orang yang udah bau tanah, baju yang dipake ga ilang baunya walau pun dipakein sepuluh botol pewangi pakaian.

Dewi melintas tak sengaja mendengar omelan Ita.

DEWI 
(Berhenti berjalan, menyapa Ita) 
Kak Ita rajin ya pagi-pagi gini udah nyuci.

 

ITA

Bukannya rajin, Wi. Ini juga terpaksa. Huek..

(Mual-mual)

DEWI

(Panik, mendekati Ita)

Kak Ita kenapa?

(Memijat bagian tengkuk Ita)

Jangan-jangan Kak Ita hamil ya?

 

ITA

(Menepis tangan Dewi)

Hamil apaan? Gimana saya mau hamil kalau kerjaan saya sejak nikah asik ngurusin ibu?! Gara-gara ibuk saya jadi ga bisa hamil karena kecapean.

DEWI

(kaget)

Hush! Kak Ita ga boleh ngomong gitu lho, durhaka…

 

ITA

(sewot)

Kok durhaka? Memang bener kok. Sejak saya nikah kan ibu sakit jadi saya sibuk ngurusin ibu sampe kadang-kadang saya ga sempat perhatiin suami saya. Kadang saya berpikir kenapa ibu ga mati aja daripada menyusahkan kami.

 

DEWI

(menggeleng kepala)

Semua pasti ada hikmahnya, Kak. Dan anggap aja ini lah saatnya kakak membalas jasa ibu walau pun sebenarnya kita ga akan mampu membalas jasanya.

(bersiap pergi-menghindar)

 

ITA

Kamu enak bisa ngomong gitu karena kamu ga ngerasain, Wi.

 

DEWI

(Tersenyum simpul-kasihan)

Ya sudahlah, Kak, kalau begitu Dewi pamit dulu, soalnya ada keperluan. Permisi…

CUT TO

 

SCENE II
FADE INT. DI KAMAR IBU. SIANG.

IBU

Air di atas meja Ibu sudah habis. Ibu haus hendak minum. Ibu memanggil Ita tapi tak ada jawaban. Ibu mencoba mengambil minumnya sendiri di ruang tengah.

 

 

IBU
(Suara amat pelan)

Ita… Nak,…

(diam sejenak menunggu jawaban)

Ita..

(berusaha bangun)

CUT TO

 

SCENE III

FADE INT. DI RUANG TENGAH. SIANG.

IBU

 

Ibu berjalan tertatih menopang pada dinding. Berhenti di dekat mushala rumahnya, mengFADE INTip sesuatu.

CUT TO

 

SCENE IV

FADE INT. DI MUSHALA. SIANG.

ITA

 

Selesai shalat, Ita sedang berdo’a sambil menangis.

 

ITA

(menangis)

“Ya, Allah.. kumohon pada-Mu dengan bersungguh-sungguh. Panggil lah ibu agar segera menemui-Mu, ya Allah. Hamba sudah tidak sanggup mengurusnya lagi. Hamba lelah. Panggil lah dia,..

CUT TO

 


 

SCENE V

FADE INT. DI RUANG TENGAH. SIANG.

IBU

 

Ibu ikut menangis mendengar do’a anaknya. Ia mengelus dadanya sendiri sambil berbalik ke kamarnya.

CUT TO

 

SCENE VI

FADE INT. DI KAMAR ITA. PAGI

ITA. SUAMI

 

Ita bersikap manis pada suaminya. Merapikan dasi suaminya yang hendak berangkat kerja.

 

SUAMI

(bingung)

Tumben pagi ini kamu manis sekali sama saya.

 

ITA

(pura-pura bodoh)
Ah, masa?!

SUAMI

(menjauhi Ita, bercermin)

Iya. Aku tau, kamu pasti mau minta sesuatu. Emangnya kamu mau minta apa?

 

ITA

(duduk di tepi tempat tidur)

Iya.

(galau-agak takut)

Kamu setuju ga kalau Ibu kita bawa ke panti jompo aja supaya ibu dapat perawatan yang intensif. Ita capek ngurus ibu. Udah ga sanggup lagi. Kamu ingat kan dokter bilang apa? Kalau aku terus kecapean gini kita ga akan bisa punya anak.

 

 

 

SUAMI

(santai)

Itu sih terserah kamu. Itu kan ibu kamu. Masalah anak, kamu tenang aja, dalam waktu dekat ini pasti kita punya anak.

(berkedip nakal-pergi meninggalkan Ita)

 

ITA

(girang)

CUT TO

 

SCENE VII

FADE INT. SEBUAH RUANGAN DI PANTI JOMPO. PAGI.

ITA. PENGURUS PANTI

 

Ita dan pengurus pantiduduk berhadapan. Ita membaca sebuah kertas prosedur.

 

ITA

Jadi tetap pakai biaya ya? Saya kira gratis. Hehehe..

 

PENGURUS PANTI

(tersenyum kecil-menggeleng)

 

Ita menyalami pengurus panti, pamit pergi.

CUT TO

 

SCENE VIII

FADE EXT. DI PINGGIR JALAN. PAGI.

ITA

 

ITA

(Bicara dalam hati)

Kalau pakai biaya, sama aja donk, tetap nyusahin. Ya Allah.. kenapa ibu ga mati aja. Atau… (melihat sebuah apotik)

CUT TO

 

SCENE IX

FADE INT. DI APOTIK. SIANG.

ITA. APOTEKER.

 

ITA

(menyerahkan beberapa uang 50.000-berbisik)

Saya butuh obat berdosis tinggi, tolong saya. Kalau kurang akan saya tambah.

 

APOTEKER

(mengambil uang di meja etalase)

Tunggu sebentar.

 

Apoteker pergi, tak lama kembali mambawa tiga macam obat dan memberikannya pada Ita.

 

APOTEKER

Saya butuh 200.000 lagi.

 

Ita segera memberikan uang lalu mengambil obat dengan terburu-buru, lalu pergi.

CUT TO

 

SCENE X

FADE INT. DI KAMAR ITA. MALAM.

ITA

 

Ita masih ragu apakah akan memberikan obat itu pada ibunya atau tidak.

Ita kembali menyimpan obat-obatan itu.

CUT TO

 


 

SCENE XI

FADE INT. DI KAMAR ITA. PAGI.

ITA. SUAMI.

 

ITA

(manja)

Kapan bisa punya anak kalau kamunya pulang pagi terus. Pergi pagi pulang pagi.

 

SUAMI

Nanti, sayang. Sabar ya.. ga lama lagi kok.

 

Suami pergi.

CUT TO

 

SCENE XII

FADE INT. DI RUANG TV. SORE.

ITA

 

Ita sedang menonton TV. HP bordering. Ita menjjawab telepon.

 

ITA

Halo?

 

SUAMI

Kamu di rumah kan?!

 

ITA

Iya, kenapa?

 

 

SUAMI

Kamu mau punya anak kan?! Pastikan kamar kita bersih dan wangi ya?

 

ITA

(kesem-sem)

Genit ah! Iya sayang, aku pasti kasih yang terbaik.

 

 

SUAMI

Tapi pastiin ibu di dalam kamar aja ya, jangan sampe keluar, ok?! Soalnya aku ga enak sama ibu.

CUT TO

 

SCENE XIII

FADE INT. KAMAR IBU. MALAM.

ITA. IBU

 

ITA

Bu, minum obatnya ya biar cepat sembuh.

 

IBU

Ini bukan obat ibu, Ta

 

ITA

Ini obat yang baru ita beli bu, kata dokter obat ini bisa bantu ibu supaya cepat sembuh

 

IBU

Biar ibu minum obat yang biasa aja ya, Ta.

 

ITA

(membentak)

Ibu! Udah cukup lah ibu buat ita capek, cukup ibu buat ita menderita. Ibu tau kenapa ita ga punya anak? Ini semua gara-gara ibu. Ita capek ngurusin ibu makanya ita ga bisa punya anak. Ibu mau ita terus-terusan kayak gini?

 

IBU

(terdiam sejenak)

Sini, Nak biar ibu minum obatnya.

 

Ibu meminum obatnya. Ita pergi. Ibu tertidur lalu ibu kejang-kejang dan buih keluar dari mulutnya.

CUT TO

 

 

SCENE XIV

FADE INT. DI DEPAN PINTU. MALAM

ITA

 

Ita sedang mengunci pintu kamar ibu.

CUT TO

 

SCENE XV

FADE INT. DI RUANG TENGAH. MALAM.

ITA

 

Berjalan mendekati pintu yang barusan di ketuk.

CUT TO

 

SCENE XVI

FADE INT. DI ABANG PINTU UTAMA. MALAM.

ITA. SUAMI. BAYI. PEREMPUAN.

 

Ita terkejut dan bingung melihat suaminya yang sedang menggendong bayi dan seorang perempuan merangkul lengan suaminya dengan mesra.

 

ITA

Mereka ini siapa?

 

SUAMI

(wajah tak bersalah-bahagia)

Ini Audi, istri aku. Mulai sekarang dia akan tinggal di sini. Ini anak kita, Ta. Anak kita sama-sama. Sekarang tolong kamu bawa itu barang-barang Audi dan bawa ke kamar ya!

 

ITA

(terkejut-marah-mata melotot)

Apa? Apa maksudnya ini hah?

 

 

 

 

SUAMI

Kamu kenapa, Ta? Bukannya kamu bilang kamu ingin punya anak? Ini anak kita, Ta. Maaf, Ta, sebenarnya dokter pernah bilang sama aku kalau kamu mandul makanya aku cari alternative lain untuk kebahagian kita, Ta.

 

ITA

(berteriak-mulai stress-tidak terima)

Nggak! Ini gak mungkin! Nggak!

CUT TO

 

ENDING

 

SCENE END I

Ibu terbujur kaku dengan buih putih di mimirnya.

 

SCENE END II

Suami memeluk Audi dan bayinya yang menangis

 

SCENE END III

Ita menjerit-jerit, menangis. Gila. Mengacak-acak rambutnya. Terduduk lemas tak berdaya.

 

 

The End

 

Dilema Dua Hati

Cinta..

Cinta itu indah, memang indah, sangat indah. Tapi tidaklah cinta itu selamanya indah. Terkadang cinta itu adalah sakit. Menyakitkan.

Apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang saat ini aku rasakan? Apa yang selama ini tersimpan di dalam hatiku?

Aku menyembunyikan semua gelisahku pada malam. Mencurahkan isi hatiku pada dinding-dinding kamar. Menghamburkan setiap tangisku pada bantal tidur yang sebenarnya lebih mengerti siapa diriku daripada ‘dia’. Aku tau semua ini adalah salahku. Dia tidak pernah mengerti aku karena aku tidak pernah berkata jujur padanya. Tidak pernah bersikap jujur.

Aku selalu merasakan cinta yang sakit kala aku bersama dia. Aku seperti sedang membunuh diriku sendiri. Membunuhnya secara perlahan. Benar-benarmenyakitkan. Aku sering menangisi diriku sendiri dan selalu merasa bersalah telah bersama dengannya selama lima tahun dan selama itulah akku tidak pernah benar-benar mencintainya.

Aku memang sering mengatakan “aku mencintaimu” atau “aku juga sangat mencintaimu” tapi taukah dia bahwa itu semua hanyalah kata-kata palsu yang aku tujukan untuk menghiburnya.

Ah.. aku lelah untuk menangisi diriku sendiri. Aku selalu saja merasa seperti ini, berpikir seperti ini setiap kali aku bertemu dengan I-Am, seorang laki-laki yang entah sejak kapan berhasil membuat aku jatuh hati bahkan tergila-gila pada dirinya yang amat biasa saja. Bahkan biala aku bandingkan I-am dengan dia, tak ada satu hal yang membanggakan dari diri I-Am kecuali caranya menggoda hatiku.

Mengingatnya membuat aku kembali membayangkan masa lalu saat awal aku diteror olehnya melalui telepon. Aku mencintai I-Am bahkan sebelum kami bertemu, tidak, bukan begitu. Sebelumnya kami sudah pernah bertemu tapi aku tidak pernah tau bahwa dirinya itu adalah I-Am. Aku mengenal I-Am hanya sebagai seorang penggemarku dan I-Am selalu menerorku melalui telepon hingga empat tahun kemudian kami benar-benar bertemu dan aku semakin jatuh cinta padanya. Cara ia memangdangiku, memegang tanganku, memperlakukan aku, oh… aku benar-benar tidak bisa menampiknya lagi. Ini cinta!

Andai saja Arya juga demikian. Ah, ini bukan salah Arya, ini salahku sendiri. Seharusnya aku tidak pernah menerima cinta Arya bila aku memang tidak mencintainya. Tapi saat itu aku benar-benar galau. Aku benci menunggu I-Am yang tak kunjung memperlihatkan wujudnya. Aku kesal karena I-Am hanya bisa megutarakan isi hatinya melalui telepon. Aku benar-benar marah karena aku tidak bisa memilikinya.

Pagi ini entah ada angin apa I-Am datang ke rumahku. Sebuah kejutan dari Tuhan.

“Kangen aja. Udah lama ga ketemu jadi…” I-Am tidak melanjutkan kalmatnya.

Aku mempersilahkan I-Am masuk tapi ia menolak.

“Di sini ajalah. Aku cuma ingin liat kamu aja kok. Sebentaaaaarrr aja.”

Aku tersipu malu kemudian melempar secuil senyum penuh arti padanya.

Jantungku terus berdebar tak karuan. Aku rasakan pipiku bersemu merah setiap kali kucuri pandang melihat matanya yang tak henti memandangi wajahku.

“Aku nyesal liat kamu. Huft!”

“Kenapa?” tanyaku yang terkejut mendengar pernyataan itu.

“Ya karena wajah kamu pasti akan jadi bayang-bayang aku lah.. itu yang bikin aku males ketemu sama kamu, tau!!!” katanya sambil mengacak-acak rambutku. “Sayangnya kamu itu udah pilih dia sebagai orang yang paling beruntung dan aku adalah manusia yang paling sial!” katanya lagi sambil menyapu wajahnya.

Aku tertegun mendengar kata-katanya. Andai saja dia tau isi hatiku. “Aku menyesal telah memilih dia dan bukan kamu..” bathinku sambil melihat punggungnya yang perlahan menjauh dan kemudian menghilang.

Di radio terputar lagu Zigaz-Hanya Untuk Hari Ini. Sial! Aku seperti tengah digoda untuk mencoba mencintai dua hati. Aku juga ingin hari ini adalah hariku bersama dengan I-Am. Hanya untuk hari ini dan besoknya aku akan kembali pada Arya tanpa merubah apapun yang ada di hatiku. Andai aku bisa memilih untuk bersama I-Am walau sehari saja pasti aku akan merasakan betapa indah cinta yang sesungguhnya.

Aku terkejut ketika sebuah kecupan mendarat di keningku.

“Arya?!”

Arya mengambil tempat duduk di sampingku sambil memelukku dengan mesra.

“Entah ada apa, entah kenapa, aku sendiri juga bingung, jangan tanya apapun.”

Aku diam sambil mengerenyitkan dahi. Aku bingung dengan kata-katanya.

“Tiba-tiba aja aku ngerasa takut kehilangan kamu. Tiba-tiba aja jantung aku sakit, sakt banget bahkan aku sampe ngeluarin air mata. Masalahnya adalah rasa sakit itu datangnya barengan sama pikiran aku yang sedang ketakutan kehilangan kamu, Na..” ujar Arya yang lagi-lagi mengecup keningku dengan mesra.

Tak hanya Arya, kini akupun merasakan sakit yang amat mendalam. Apa yang telah aku lakukan? Aku menyakiti hati orang yang menyayangiku dengan tulus. Aku hanya berpura mencintainya dan yang menyedihkan adalah aku tidak pernah memberikannya setetes cinta yang selalu ia nanti.

“Kamu tau ga, Na.. kadang aku berpikir kalau kamu ga benar-benar sayang sama aku. Aku sediiiiihhh banget. Cuma gara-gara cinta aku jadi cengeng. Tapi cinta itu memang gitu, Na.. kadang-kadang menyenangkan dan kadang-kadang menyakitkan. Tapi kamu tenang aja karena aku ngasih cinta yang sempurna buat kamu supaya kamu ngerasain cinta yang indah dan tentunya supaya kamu ga selingkuh hati!”

Tanpa kusadari tetesan bening penuh kepahitan menetes dari sudut mataku.

“Kamu nangis, terharu ya?!” tanya Arya mengajakku bergurau.

Aku menggeleng. Ingin rasanya aku jujur tapi wajah polos Arya membuat aku luluh hingga kembali kusimpan derita cinta ini sendiri dan aku biarkan cinta ini memilih I-Am dan tak membiarkan Arya mengetahui bahwa aku telah menyuguhkannya cinta yang pahit.

Tentang Ridu

Ini adalah tentang rasa, tentang rindu.. rindu yang tak berlabuh, rindu yang tak menemukan dermaganya namun terus mencari…

Ini adalah pembicaraan dari hati ke hati..

 

“adakah dirimu merindukanku…” ia bertanya manis padaku. Masih dengan senyuman yang sama. Senyuman penuh tulus.

“bergunakah rinduku padamu?” tanyaku berbasa-basi. Tanya seorang yang tak lagi percaya akan segala rasa.

“rindu itu bahasa kalbu… jadi gunanya pun hanya untuk kalbu…” jawabnya masih dengan pandangan yang sama seperti dulu, kemarin dan mungkin berlaku hingga aku mati.

“bila bagimu rindu itu tak tahu dimana gunanya, lalu akan kau arahkan kemanakah rasa yang kau punya…” tanyanya sambil mengangkat wajahku yang menunduk.

“biarkanlah… karena rindu pun bukan sebongkah donat, yang dapat dipesan dalam loyang…” katanya puitis.

“Kau tau bahwa wajahmu, senyummu, dan manja suaramu, adalah sumber inspirasiku dalam menciptakan kata agar dirimu mendekat kepadaku…” katanya menggenggam tanganku. Wajahnya mendekat padaku.

“seberapa lamakah aku harus menunggu rindumu…” matanya menatapku dalam, penuh arti.

Aku diam.

“seperti gunanya rindu, kapan datangnya pun kau tak tahu. ah… ada apakah dengan hatimu hai rinduku…” tubuhnya berbalik, menjauhiku lalu kembali mendekat.

“bukan aku tak ingin merindu, namun rindu pernah pupuskan harapku, hingga kini kujauhi rindu..” ungkapku jujur.

“hidup itu penuh liku, saat rindu itu pupuskan harapmu, masih panjang jalan untuk merajutnya..” katanya lagi memberi harapan.

“kutau jalan ini panjang, dan hidup ini luas, tapi bila asa tlah tiada, rindupun tlah tiada gunanya..” kataku melemah. “pernah kucoba tuk merindu tapi aku jatuh dan kembali gagal, terpuruk dalam kebencian,” sambungku.

“hidup itu indah sayang, pupusnya harapan hanyalah ujian. selalu ada hikmah di dalamnya, dan aku – merangkulmu dalam rinduku untuk melengkapi asamu…” tangannya membelai lembut pipiku yang bersemu merah.

Ku pindahkan tangan itu dari wajahku, “maaf,.. saat ini sungguh aku tak ingin merindu. mungkin benar aku lemah, aku kalah, namun semua itu bukan inginku.. aku hanya pernah merasakan betapa sakitnya merindu tanpa dirindu. kuharap engkau tak mengalami hal yang sama denganku…” kataku tak ingin lagi memberi harapan.

“Dan aku akan tetap menjadi perindumu…” ujarnya sambil mengecup kedua tanganku.

 

Kubiarkan..

 

** terinspirasi dari pesan masuk di facebook dari seorang penulis🙂